Aksi Para “Diplomat” Muda Indonesia di China

Senin, 07 Oktober 2013

 

Oleh : Ahmad Syaifuddin Zuhri

www.okezone.com, 28 Agustus 2013 

“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku, ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku” (Muhammad Hatta)

Siapa yang tidak tahu negeri Tirai Bambu, negeri yang terkenal dengan peradabannya yang tua dan menjadi magnet dunia dalam banyak pembelajaran.

Kali ini penulis tidak ingin mengajak menjelajahi negeri tersebut. Akan tetapi sedikit menceritakan tentang beberapa aktivitas anak bangsa dalam wadah organisasi yang bernama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok, organisasi yang didirikan 28 Oktober 2012 di Beijing yang menjadi pemersatu pelajar Indonesia di China.

Penulis ingin memberi secuil informasi tentang aktifitas para pelajar Indonesia di China dan kiprah mereka.

Dalam catatan yang dikeluarkan oleh Atase Pendidikan dan Budaya RI di Beijing, sepanjang tahun 2012 terdapat sekitar 9.800 pelajar Indonesia yang belajar di negeri tirai bambu.

Organisasi yang beranggotakan mulai dari pelajar tingkat SMA sampai level Doktoral tersebut membawahi 16 cabang daerah atau kota-kota di China yang terdapat pelajar Indonesia disana, ada Beijing, Suzhou, Nanning, Nanjing, Guilin, Wuhan, Nanchang, Hangzhou, Guangzhou, Xiamen, Shanghai, Kunming, Changsa, Haikou, Hefei dan Ningbo.

Sebelum berdirinya PPI Tiongkok, sebagian pelajar-pelajar tersebut mendirikan organisasi di daerah masing-masing, sekarang mereka semua melebur menjadi satu menjadi PPI China demi mengharumkan nama bangsa di negeri tirai bambu tersebut.

Di sela kesibukan dan padatnya jadwal kuliah, mereka tetap semangat dalam berkreasi dan mengembangkan kemampuan mereka melalui aktifitas keorganisasian dengan tanpa meninggalkan misi mereka yang utama yaitu belajar.

Sebagai pelajar di luar negeri, selain belajar mereka secara nonformal juga berperan sebagai duta-duta budaya Indonesia, peran mereka sangat besar dalam mengenalkan tradisi dan budaya Indonesia yang kaya kepada masyarakat China maupun pelajar asing lainnya disana.

Banyak peran dan aktifitas mereka disana dalam mengenalkan budaya Indonesia, ada beberapa contoh, misalnya, Batik Day yang diperingati setiap hari Jumat oleh seluruh pelajar Indonesia disana untuk memakai pakaian batik, program ini bertujuan mengenalkan batik secara internasional dan sebagai kebanggaan mereka akan kecintaan terhadap budaya asli Indonesia tersebut.

Selain itu setiap pengurus cabang juga mempunyai program-program yang lain yang tidak kalah menarik, Cabang kota Nanchang misalnya, mempunyai tim tari Saman yang  dibentuk Nopember 2011 lalu. Tari yang berasal dari Aceh dan sangat populer baik di Indonesia maupun di luar negeri ini dibawakan oleh 20 pelajar Indonesia di Nanchang dan menariknya, ada sejumlah pemain yang asli pelajar China ikut bergabung untuk belajar.

Tim tari Saman tersebut sepanjang tahun 2012 kemarin tampil dalam 10 kali dalam berbagai acara, mulai dari acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa lokal sampai menjadi tim tamu khusus satu-satunya dari mahasiswa asing yang mendapat kehormatan tampil dalam acara Festival Budaya Akhir Tahun Nanchang University, sebuah acara seni budaya yang paling bergengsi di kampus tersebut yang dihadiri oleh sekitar 7000 penonton.

Sejak penampilan dalam acara itu, banyak tawaran yang datang mengundang untuk tampil dalam acara-acara seni budaya di dalam kampus maupun diluar kampus yang diselenggarakan oleh masyarakat Nanchang.

Cabang lainnya yakni cabang kota Guilin, sebuah kota yang terletak di selatan Nanchang. Pelajar Indonesia disana dalam waktu tiga tahun terakhir berturut-turut menyelenggarakan pelatihan Bahasa Indonesia bagi orang asing dan mendapat respon luar biasa yang ditandai dengan peserta sampai ratusan dan tidak hanya dari kalangan warga Tiongkok tapi orang asing yang tinggal di kota tersebut seperti dari Vietnam, Amerika, Nigeria dan sebagainya.

Selain itu ada lagi cabang Haikou, yang menyelenggarakan Indonesian Culture Festival yang bertema All About Indonesia di Hainan Normal University, acara ini mengenalkan mulai dari kondisi geografis Indonesia, tari-tarian seperti tari Pendet dan tari Saman sampai mengenalkan kuliner khas Indonesia.Selain mengenalkan melalui pameran, mereka juga menjual makanan berupa nasi kuning yang terjual habis dalam waktu kurang dari dua jam.

Partisipasi dan aktifitas pelajar Indonesia di China tidak hanya berhenti disitu saja, ada juga yang aktif dalam proses perkuliahan hingga menjadi delegasi dalam acara kemahasiswaan seperti yang dilakukan oleh enam mahasiswa Indonesia yang belajar di Nanchang University, kota Nanchang, yang mengikuti konferensi Asia International Model United Nations atau AIMUN yang diselenggarakan oleh Peking University Beijing pada 27-31 Maret lalu.

AIMUN Peking University merupakan kegiatan simulasi Sidang PBB yang bertujuan mengenalkan kepada generasi muda bagaimana proses persidangan di organisasi persahabatan dunia itu. Kegiatan tersebut diikuti 118 peserta dari 13 negara di Asia.

Yang membanggakan,dua dari enam orang tersebut yaitu Biondhi Sandhasima dan Sitti Marwah berhasil meraih penghargaan Best Delegate Unicef dan Best Position Paper, keduamya merupakan mahasiswa yang berasal dari Makassar.

Diplomasi Budaya

Beberapa aktifitas pelajar Indonesia di Tiongkok tersebut adalah sebagian dari banyaknya aktifitas yang lain. Peran dan aktifitas pelajar Indonesia inilah yang semakin menguatkan hubungan bilateral kedua negara melalui apa yang dinamakan dengan people-to-people contact, salah satubagian dari konsep Total Diplomacy, yaitu upaya-upaya diplomasi yang dilakukan oleh elemen-elemen non pemerintah secara tidak resmi.

Atau istilah lainnya adalah Diplomasi Budaya, yang menurut Milton C. Cummings yakni “Pertukaran ide, informasi, nilai-nilai, sistem, tradisi, kepercayaan, dan aspek lain dari budaya, dengan tujuan memupuk saling pengertian”.

Diplomasi budaya adalah salah satu bagian dari diplomasi publik yang saat ini digencarkan pemerintah Indonesia sebagai langkah bahwa tidak hanya pemerintah yang bisa aktif kerjasama dengan negara luar tapi unsur atau aktor swasta dan masyarakat sipil seperti dalam hal ini pelajar Indonesia yang bertujuan mengenalkan budaya Indonesia dan diharapkan tercapai nilai saling menghormati, damai, dan penuh keharmonisan.

Ditengah keterbatasan mereka sebagai pelajar, Para “diplomat” muda itu secara swadaya dan gotong royong mewujudkan keinginannya dalam mengenalkan Indonesia, Sebuah wujud semangat kecintaan dan kebanggaan pelajar Indonesia kepada negerinya yang patut mendapat dukungan dan apresiasi tinggi oleh kita semua maupun para pemangku kebijakan saat ini.

Ahmad Syaifuddin Zuhri

Mahasiswa Program Beasiswa China Scholarship Council (CSC) Master Hubungan Internasional Nanchang University, China, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok.(www.jejakzuhri.wordpress.com)

 

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2013/08/28/373/856874/diplomasi-budaya-pelajar-indonesia-di-china