Bingkisan Natal dari Harbin

Selasa, 14 Januari 2014

 

21 Desember tahun 2012 lalu, saya menghela nafas, menghitung mundur sampai hari raya Natal. Tidak ada rencana, hari itu bakal menjadi hari natal pertama di negeri Tiongkok tanpa keluarga dan tanpa perayaan. 21 Desember 2013, satu tahun setelahnya, saya dengan nafas semangat memanjat sampai lantai 5 salah satu gedung di Harbin Institute of Technology,   sesampainya,  ruang  kelas sudah disulap   meriah,  lengkap   dengan   dekorasi  warna warni dan pohon natal, “Kak… Sudah sampai! Hadiah natalnya bawa kan?”, sapaan ramah dari teman-teman setanah air, lengkap dengan senyum dan topi merahnya.

Kalau saya boleh mengucap syukur di hari perayaan itu, Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok – Harbin (PPIT Harbin), ya, nama wadah resmi di bawah binaan KBRI akan menjadi salah satu nama yang saya sebut dalam doa saya. Perhimpunan yang didirikan resmi pada 19 Oktober 2013 mengeluarkan 2 program kerja besarnya sebagai bingkisan natal buat teman-teman pelajar Indonesia di Harbin, Tiongkok.

Bingkisan pertama, adalah bingkisan istimewa “Indonesian Christmas Gathering 2013” sebagai kegiatan perayaan keagamaan yang merupakan sebuah bentuk penghormatan dan kerukunan kemajemukan Indonesia. Bingkisan natal yang merupakan hasil kerja 3 Divisi PPIT Harbin, yakni Divisi Olahraga, Rekreasi & Kepemudaan, Divisi Sosial, Seni & Budaya, Divisi Pendidikan & Penelitian, diadakan dengan durasi kurang lebih 4 jam, dan diisi 15 acara, berhasil mengumpulkan 90% anggotanya untuk memeriahkan Natal bersama. Acara meliputi briefing ski Yabuli, nyanyian, renungan, kampanye ilmiah tentang fakta rokok, makan bersama, permainan, tukar kado, dan juga foto bersama.

Nyanyian yang dibawakan pada malam itu adalah “Footprints in the Sands“, “All I want For Christmas Is You“, “The Prayer“, and “Have Yourself A Merry Little Christmas“. Peserta ikut melambaikan tangan dan ikut bernyanyi, suasana yang serasi, menyeluruh, dan kompak menemani damainya malam itu.

Namun perayaan  natal ini tidak hanya berisi acara senang-senang saja, sebab panitia  ingin agar  peserta   mendapatkan ‘sesuatu’  sepulangnya  dari  acara  ini dengan  adanya  sesi  renungan  dan  presentasi  ilmiah. Renungan tentang “Panah Kehidupan” yang dibawakan ketua panitia acara memberikan suatu intisari bahwa apa yang kita lakukan antar sesama kita yang paling hina, kita  melakukannya  untuk  Tuhan,  dan  mencintai  sesama  bahkan  yang  telah melukai  kita adalah bukan hal mustahil. Presentasi ilmiah tentang fakta rokok yang dibawakan oleh ketua koordinator Divisi Olahraga, Rekreasi & Kepemudaan PPIT Harbin berdurasi 30 menit, dibawakan dengan penuh semangat dan disambut dengan antusias dari peserta. Bagaimana tidak? Slide yang menarik, disangkutkan dengan banyak fakta dan video tentang rokok yang belum banyak diketahui oleh orang awam membuat pasang mata semua peserta tidak lepas dari presentator.

Acara setelahnya adalah bersantap malam bersama, tiap orang dengan lahapnya mengisi tenaga dengan makanan ringan dan makanan utama guna mempersiapkan diri, sebab acara setelahnya adalah games!! Semua peserta dibagi kedalam 3 regu berdasarkan nomor yang telah dibagikan di awal. Permainan pertama adalah  tebak  gambar,  dimana  setiap  kelompok  diminta untuk berbaris dan peserta yang berada paling depan akan mengambil kata-kata yang sudah diacak. Kata yang didapat harus digambarkan pada kertas yang sudah disediakan dalam waktu 10 detik, kemudian diperlihatkan pada peserta berikutnya dan dilakukan berulang hingga peserta terakhir yang nantinya akan menebak gambar tersebut. Permainan berikutnya adalah tebak kalimat yang dan tidak kalah serunya dari permainan sebelumnya. Intinya hampir sama dengan tebak gambar, namun yang berbeda adalah peserta harus membisikkan kalimat yang terdiri dari 10 kata kepada peserta berikutnya dalam waktu 10 detik dan dilakukan berulang hingga peserta terakhir yang nantinya akan menebak kalimat tersebut. Hitung angka dipilih sebagai permainan terakhir, dimana permainan ini membutuhkan kejelian dan kemampuan menghitung yang mumpuni, sehinga terbilang cukup menantang dan seru sebagai penutup sesi games.

Kalau diminta menjelaskan, proses yang terjadi dalam permainan, mungkin saya akan menghabiskan lebih banyak ruang lagi dibanding paragraf di atas. Terbahak-bahak, tertawa geli, suara ramai dari respon peserta ketika semangat mengumpulkan poin bersaing dengan regu lain. Panitia perlu diacungkan banyak jempol karena berhasil membangkitkan jiwa anak-anak dari tiap peserta ketika bersentuhan dengan permainan. Sesi terakhir dari malam perayaan natal ini ditutup dengan acara tukar kado. Bingkisan pertama terindah, hadiah natal termeriah dalam Natal kedua saya di negeri Tiongkok ini, damai dan suka cita ada dan tampak dalam senyum tiap orang dan dalam senyumku.

Selepas dari acara ini, saya masih dengan penuh antusias karena menanti bingkisan Natal kedua saya, keesokan paginya pukul 05.30, saya akan berangkat untuk bermain ski di Yabuli, resort ski internasional top di Tiongkok, bersama teman-teman Indonesia lainnya. Acara ini merupakan hasil kerja wakil ketua, bendahara, Divisi Olahraga, Rekreasi & Kepemudaan, Divisi Pengembangan Organisasi, Kaderisasi & SDM. Perjalanan dari Harbin menuju Yabuli memakan waktu 3 jam perjalanan dengan bus, lokasi yang pernah dipakai untuk Winter Asian Games 1996, National Winter Games 2008, dan Winter Universiade2009, saya pikir lamanya perjalanan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pemandangan luar biasa dari Yabuli.

Tanggal 22 Desember 2013, hari itu merupakan hari yang cerah, suhu udara juga tidak termasuk sangat dingin, cahaya matahari tampak menyapa lewat pantulannya ke cermin salju, putih, bersih, hari itu akan sama indahnya dengan hari kemarin. Indahnya danau beku di salah satu wahana ski level pemula di yabuli dan ramainya tawa teman-teman ketika harus terjatuh dan bangkit lagi untuk berseluncur di atas putihnya salju, mewarnai hari saya saat itu.

Sebagian besar teman-teman yang terlibat di kegiatan ski ini adalah yang belum pernah menyentuh ski sekalipun, oleh karenanya hari itu menjadi sedikit melelahkan karena kita dan termasuk saya sendiri harus terjatuh berkali-kali di atas luncuran salju putih. Bahkan, untuk bangkit sekalipun bukan hal yang mudah, namun keseluruhan saya puas dan bangga karena saya mampu menginjakkan kaki disalah satu resort ski terkemuka di dunia ini. Permainan ski berakhir pada pukul 14.30 dan diakhiri dengan foto bersama. Acara berakhir dengan makan malam bersama setibanya di Harbin pukul 19.00.

Natal tahun 2013 adalah perayaan besar bagi saya sendiri karena saya adalah seorang Kristiani, dan saya sungguh bisa merasakan kasih bersama, solidaritas, dan kekeluargaan dengan adanya wadah yang menyatukan anak-anak Indonesia bersama meskipun jauh dari tanah air. Salah satu teman, di sela acara, berkata, “Kak, kalau begini nih baru nggak kerasa kalau lagi di Tiongkok, ya? Haha…”. Saya jawab, “Banget!!”.

Penulis: Felicia Putri Hernat

 Mahasiswa S2 Jurusan Kimia Analisis Harbin Normal University

Pengurus PPIT Harbin