Duta Besar RI Terima Honorary Professorship Dari Beijing Foreign Studies University

Jumat, 15 Maret 2013

 

Duta Besar RI untuk RRT merangkap Mongolia, Imron Cotan, pada Rabu sore (13/03) menerima Honorary Professorship in Diplomacy dari Beijing Foreign Studies University (BFSU). Pemberian gelar kehormatan tersebut dilakukan oleh Presiden BFSU Prof. Han Zhen, di Conference Room, Administration Hall, BFSU dan disaksikan oleh sekitar 300 orang dosen, mahasiswa dan civitas akademika BFSU, serta wakil ASEAN-China Center dan media massa RRT.

Acara dibuka dengan sambutan pembukaan oleh Presiden Han Zhen yang menyampaikan kebanggaan BFSU untuk memberi gelar Profesor Kehormatan sebagai wujud penghargaan universitas pusat pendidikan para diplomat unggul RRT tersebut, atas kerja keras Duta Besar RI dalam mengeratkan hubungan kedua negara. Sejak tahun 2001 – 2010, BFSU telah memberikan gelar ini kepada 22 orang, yang pada umumnya berasal dari kalangan akademisi. Duta Besar Imron Cotan adalah penerima gelar Profesor Kehormatan yang ke-23 dari BFSU, dan satu-satunya Duta Besar asing untuk RRT yang pernah menerima gelar tersebut.

Sejak didirikan pada tahun 1941, BFSU telah meluluskan lebih dari 80.000 orang. Para alumninya, selain memegang berbagai jabatan penting di pemerintahan dan Politbiro RRT, juga banyak yang menjadi diplomat ulung RRT. Oleh karenanya, BFSU juga terkenal dengan sebutan ’the China’s cradle of diplomats’. Tercatat lebih dari 1400 alumni Universitas ini yang menjadi diplomat, diantaranya 400 orang pernah menduduki jabatan sebagai Duta Besar RRT. Saat ini terdapat 33 alumni BFSU yang sedang aktif menjabat sebagai Duta Besar RRT di luar negeri.

BFSU telah mengajarkan Bahasa Indonesia sejak tahun 1962 dan juga telah mendirikan Indonesia Study Center yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan RI pada tahun 2012 lalu. Kerjasama dan hubungan yang semakin erat selama beberapa tahun terakhir tidak mungkin dapat terjalin tanpa dukungan penuh dari Duta Besar RI untuk RRT.

Berbagai pihak menyatakan bahwa saat ini hubungan Indonesia – Tiongkok tengah mencapai titik kulminasi, dengan tingkat perdagangan dua arah yang melonjak dari USD 26.3 milyar di tahun 2010 hingga mencapai USD 66.6 milyar di tahun 2012. Investasi RRT di Indonesia pada tahun 2010 tercatat sebesar USD 600 juta dan nilai tersebut berlipat ganda menjadi USD 2.02 milyar tahun pada 2012. Jumlah pengunjung asal Tiongkok ke Indonesia juga meningkat menjadi 850 ribu orang pada tahun 2012 dari jumlah 250 pengunjung di tahun 2010. Melihat potensi kerjasama bilateral yang demikian besar, Duta Besar RI untuk RRT berjanji akan menggunakan kepercayaan yang diberikan oleh BFSU sebagai platform untuk bersama-sama dengan seluruh stakeholder lebih memperkokoh kerjasama bilateral yang dimandatkan oleh Deklarasi Kemitraan Strategis RI-RRT tahun 2005.

Dalam pembacaan makalah ilmiahnya, Duta Besar RI juga menggarisbawahi pentingnya kerjasama Indonesia dan RRT, sebagai dua negara besar di kawasan Asia, guna menjaga keamanan, stabilitas dan kemakmuran kawasan. Mengingat krisis ekonomi yang berkepanjangan di Eropa dan Amerika Serikat (AS), serta gejolak politik dan ancaman keamanan di negara-negara Timur Tengah dan sebagian negara Asia Tengah, saat ini Asia Timur bertindak sebagai motor penggerak ekonomi dunia. Oleh karena itu, menghadapi berbagai tantangan yang membayangi keamanan kawasan, seperti krisis nuklir di Semenanjung Korea dan masalah kedaulatan di Laut China Selatan, Indonesia selalu mendorong penyelesaian masalah dengan damai, salah satunya melalui mekanisme kerjasama ASEAN+1 (China).

Menjawab pertanyaan seorang mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional BFSU mengenai kebijakan ‘kembali ke Asia’ oleh AS, Dubes RI menyatakan bahwa AS merupakan negara super power yang dapat memproyeksikan kekuatannya di seluruh dunia, seperti di Timur Tengah dan Asia Tengah. Pada saat yang bersamaan, Asia Timur mengalami kemajuan pesat sehingga kini AS kembali mencurahkan perhatiannya ke kawasan. Indonesia pada dasarnya menyambut negara manapun yang memberikan perhatian dan kontribusi positif kepada pembangunan dan perdamaian kawasan, termasuk AS. Dalam diskusi, Dubes RI juga menekankan pentingnya pembinaan dan penguatan people-to-people contact untuk melebarkan dan memperdalam hubungan bilateral kedua negara, khususnya di bidang pendidikan.

Acara penganugerahan gelar Profesor Kehormatan ditutup dengan tukar menukar cinderamata, dimana Duta Besar RI memberikan sebuah lukisan karya mahasiswa Indonesia yang mempelajari Seni Rupa di Beijing. Lukisan berjudul ‘Pergi ke Pasar’ tersebut memperkaya ‘foot-print’ seni budaya Indonesia di BFSU, setelah sebelumnya universitas tersebut menerima sumbangan Angklung, Gamelan Sunda dan buku-buku pelajaran dan sastra Indonesia dari KBRI Beijing.

Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan bagi Duta Besar RI merupakan gelar pertama yang diberikan BFSU kepada diplomat asing di RRT, dan satu-satunya gelar yang diberikan oleh universitas ternama tersebut sejak tahun 2010. Hal ini juga mengindikasikan bahwa penguatan hubungan bilateral RI-RRT sudah ‘on the right track’ bahkan telah mendapatkan apresiasi tinggi dari berbagai kalangan di RRT. (sumber: KBRI Beijing)