Kongres PKC dan Masa Depan China

Kamis, 31 Januari 2013

 

Kongres PKC dan Masa Depan China

Harian Jurnal Nasional | Rabu, 14 Nov 2012

Ahmad Syaifuddin Zuhri

Mahasiswa Program Beasiswa Master Ilmu Hubungan Internasional Universitas Nanchang, China

PERUBAHAN kepemimpinan di tubuh China dan siapa presiden yang akan melanjutkan Hu Jintao untuk 10 tahun mendatang bisa dilihat di dalam Kongres Nasional ke-18 Partai Komunis China, 8-14 November 2012. Kongres yang dilaksanakan tiap lima tahun ini, salah satu agenda utamanya adalah memilih anggota Komite Tetap Politbiro Pusat. Dan, yang paling penting adalah menyiapkan siapa presiden selanjutnya.

Kongres Nasional Partai Komunis China adalah forum kenaikan level kader dari muda ke senior. Sebagai partai tunggal yang berkuasa, perubahan kepemimpinan dalam partai automatis menjadi simbol perubahan kepemimpinan dalam pemerintahan pusat.

Kongres dilaksanakan di Great Hall of The People, Beijing, dihadiri 2270 delegasi yang terpilih dari 40 konstituen yang meliputi perwakilan tingkat provinsi, daerah otonomi, dan kota khusus. Termasuk perwakilan dari Taiwan, Macao dan Hong Kong (kemungkinan dua daerah ini masuk dalam perwakilan delegasi Provinsi Guangdong), Tentara Pembebasan Rakyat atau PLA, anggota pusat partai, kementerian dan komisioner pemerintah pusat, Dewan BUMN Pusat serta Institusi Finansial dan Bank Sentral.

Selain dari delegasi tersebut, ada juga delegasi dari sektor lain. Seperti: buruh swasta, kepolisian, dan undangan khusus di luar Partai komunis China untuk mengikuti pembukaan dan penutupan.

Dalam perpolitikan China ada dua kongres tertinggi yang sangat penting yaitu Kongres Rakyat Nasional dan Kongres Nasional Partai Komunis. Kedua kongres tersebut sama-sama dilaksanakan tiap lima tahun. Bedanya, Kongres Rakyat Nasional biasanya dilaksanakan Maret untuk memilih dan memutuskan pejabat tertinggi pemerintahan seperti presiden dan perdana menteri. Sedangkan Kongres Nasional Partai Komunis dilaksanakan antara Oktober-November untuk memilih pemimpin di tubuh partai dan menyiapkan calon presiden selanjutnya.

Dalam sistem struktur Partai Komunis China, Kongres Nasional Partai Komunis adalah level tertinggi yang terdiri dari Komite Pengawas Disiplin Partai dan Komite Pusat Partai, Komite Pusat Partai, terdiri dari Sekretaris Jenderal, Komite Tetap Politbiro Pusat, Komite Politbiro, Sekretaris dan Komisi Militer Pusat. Dari struktur tersebut bisa dilihat, siapa yang menjabat bisa dipastikan akan menjadi pemimpin China selanjutnya, terutama yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai.

Posisi Sekretaris Jenderal yang akan menggantikan Hu Jintao yang sudah masuk masa pensiun akan digantikan oleh Xi Jinping. Posisi Sekretaris Jenderal Partai biasanya akan diproyeksikan sebagai presiden dalam pemerintahan China.

Selain memilih Sekretaris Jenderal Partai, Kongres Nasional Partai Komunis juga akan memilih tujuh anggota Komite Tetap Politbiro Pusat. Dalam kongres tahun 2007, anggota Komite Tetap Politbiro Pusat sebanyak sembilan anggota. Namun mulai Kongres tahun ini akan dikembalikan lagi menjadi tujuh anggota seperti kongres sebelum 2007.

Sembilan Naga. Istilah ini dipakai untuk menyebut Sembilan Komite Tetap Politbiro Pusat karena anggota ini berpengaruh kuat dalam proses politik di tubuh partai dan tentu juga dalam pemerintahan China. Sebab, semua anggota tersebut juga akan menduduki top level dalam pemerintahan China.

Partai Komunis China mempunyai anggota sekitar 80 juta orang. Terdiri dari petani dan nelayan 31 persen, pekerja profesional 23persen, pensiunan 18 persen, buruh 9 persen, pegawai pemerintah 8 persen, mahasiswa 3 persen, dan lainnya 8 persen. Dari segi gender, terdiri dari 77 persen laki-laki dan 23 persen perempuan.

Kongres Nasional Partai tahun ini meneguhkan ideologi tentang sosialisme yang berkarakteristik China. Sosialisme yang diarahkan sesuai dengan Teori Sosialisme Pembangunan Deng Xiaoping. Tema yang dikembangkan sebagai ideologi partai ini tidak hanya didengungkan di forum Kongres, tapi juga disebarkan ke semua level partai hingga tingkat bawah. Juga, menjadi bahan kajian ilmiah di kampus-kampus di China.

Hajatan besar yang dibuka oleh Sekretaris Jenderal PKC Hu Jintao, Kamis, 8 November 2012 pukul 9 pagi waktu China tersebut menjadi berita utama di media cetak maupun elektronik serta banyak dijumpai dalam digital reklame di sudut-sudut kota China. Bahkan, merambah sampai di jejaring-jejaring sosial China seperti Weibo dan QQ.com

Pemimpin China

Sosok penting yang akan menjadi pengganti Hu Jintao sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis China adalah Xi Jinping. Dalam pemerintahan saat ini ia menduduki posisi Wakil Presiden China dan ia diproyeksikan sebagai calon kuat presiden China 2013-2023.

Pria ini dilahirkan di Provinsi Shaanxi, Juni 1953. Ia berasal dari etnis Han, etnis mayoritas di China. Dari rekam jejaknya ia bergabung ke Partai Komunis mulai tahun 1969 dan pernah menduduki jabatan top partai dari level bawah sampai level provinsi. Jabatannya yang terakhir di tubuh Partai Komunis China adalah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat.

Selain akan memproyeksikan Xi Jinping sebagai calon presiden China berikutnya, Kongres juga akan memproyeksikan Li Keqiang sebagai Perdana Menteri menggantikan Wen Jiabao, Yu Zhengsheng sebagai ketua Kongres Rakyat Nasional atau parlemen China, Li Yuanchao sebagai wakil presiden dan Wang Qishan sebagai wakil pertama Perdana Menteri.

Meski menurut konstitusi China mereka semua akan dipilih dan diputuskan pada waktu Kongres Rakyat Nasional yang rencana akan diselenggarakan Maret 2013, namun fakta: yang paling menentukan siapa pemimpin China berikutnya adalah Kongres Nasional Partai Komunis.

Xi Jinping sebagai pemimpin China berikutnya tentu akan melanjutkan kebijakan pemimpin sebelumnya yang dianggap sukses. Seperti: di tingkat internal adalah reformasi pembangunan yang dikonsep oleh Deng Xiaoping yang jejaknya dirasakan luar biasa saat ini.

Kebijakan politik luar negeri China dikenal dengan istilah Lima Prinsip. Yaitu: saling menghormati kedaulatan dan integritas teritorial, saling non-agresi, non-intervensi dalam urusan internal masing-masing, kesetaraan dan saling menguntungkan, dan hidup berdampingan secara damai.

Kebijakan tersebut menjadi pedoman dalam peningkatan peran China dalam percaturan politik dan ekonomi global, terutama memfokuskan kerja sama dengan negara-negara di Afrika dan Asia yang menjadi basis penguatan pengaruh globalnya dalam menghadapi Barat.

http://www.jurnas.com/halaman/6/2012-11-14/226674