Malang dan Bromo Membuat Rindu

Selasa, 12 Maret 2013

 

Oleh : Esti Maryanti

Mendengar nama “Malang” saja, sudah pasti tergelitik. Karena kata “Malang” di Indonesia diasumsikan sebagai nasib buruk atau jauh dari kesan kegembiraan.  Sampai saat ini para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama “Malang”. Dan Hipotesa yang paling popular adalah dikaitkan dengan semboyan “Malang Kucecwara” yang berarti Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik. Apapun hipotesanya yang jelas nama Malang sama sekali tidak merujuk pada kemalangan nasib atau keburukan, justru bila berkunjung ke Malang, Anda akan melihat kesan jauh dari prasangka anda akan namanya.

Malang, adalah kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah kota Surabaya dan digadang-gadang sebagai kota pendidikan karena atmosfir lingkungannya yang tenang, asri, serta memiliki beberapa universitas ternama dan menjadi destinasi belajar Mahasiswa terutama dari kawasan Indonesia bagian timur.

Terletak pada pada ketinggian antara 429 – 667 meter diatas permukaan air laut dan  dikelilingi pegunungan, membentuk iklim Malang yang cukup sejuk berkisar antara 22,2 °C – 24,5 °C. Kesejukan inilah yang membuat Malang di masa lalu menjadi salah satu pusat perhatian hindia Belanda untuk membentuk pemerintahan administrasi yang sisa-sisa sejarahnya masih dapat terlihat di pojok-pojok kota ini. Ini menjadi salah satu alternatif wisata sejarah di Indonesia.

Meskipun menggunakan Bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran sebagai bahasa sehari-hari, namun Arek-Arek Malang (sebutan untuk pemuda-pemudi Malang) memiliki sebuah dialek khas yang disebut Boso Walikan, yaitu cara pengucapan kata secara terbalik. Misalnya,  “Malang” menjadi “Ngalam”, “bakso” menjadi “oskab”,  burung menjadi “ngurub”, dan contoh lain seperti “saya bangga arema menang” menjadi “ayas bangga arema nganem” . Bahasa terbalik ini menurut sejarah asal muasal dimulai pada saat  jaman perjuangan Gerilya Rakyat. Eksistensi Boso Walikan pada saat itu berfungsi sebagai alat komunikasi rahasia antar sesama pejuang dan sekaligus menjadi identitas untuk mengenal kawan ataupun lawan. Bahasa ini kemudian berkembang sebagai bahasa keseharian arek arek Malang menjadi keunikan tersendiri. Gaya bahasa masyarakat Malang terkenal egaliter dan blak-blakan, yang menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi.

Seperti halnya daerah lain di Indonesia, Malang memiliki sejumlah tujuan wisata, taman-taman kota yang asri, wahana permainan spektakuler, hingga festifal tahunan Malang Tempo Doloe yang unik dan selalu ramai. Namun bila anda menginginkan pengalaman wisata pemandangan yang tidak biasa, jauh dari kesan perkotaan dan hiruk pikuk keramaian, maka dari Malang, sempatkanlah menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang kepopulerannya sudah mendunia. Taman Nasional ini berada dalam lingkup 4 kabupaten termasuk kabupaten Malang dengan ketinggian 2392 Meter di atas permukaan laut. Bromo dapat ditempuh dalam 2 jam dari pusat kota Malang. Keadaan alam Gunung Bromo bertautan pula dengan lembah, ngarai, caldera atau lautan pasir dengan luas sekitar 10 Km.

Sebagai gunung berapi yang masih aktif, Gunung Bromo telah mengalami letusan dengan interval waktu yang teratur dalam 20 abad ini, yakni sekitar 30 tahun sekali. Letusan terbesar terjadi pada tahun 1974 dan kembali meletus di tahun 2010.

Selain keindahan yang tersimpan di Gunung Bromo, Juga keunikan masyarakatnya Suku Tengger yang berada di sekitar taman nasional ini merupakan suku asli yang beragama Hindu.

Yadna Kasada atau Upacara Kasodo lah yang membuat Gunung Bromo menjadi tujuan destinasi utama setiap tahunnya. Upacara Kasodo digelar setiap tahun pada bulan purnama di bulan Desember atau Januari. Melalui upacara tersebut, masyarakat suku Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersemahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Meskipun penuh dengan bahaya, terdapat beberapa penduduk setempat yang mengambil resiko dengan naik dan turun ke kawah dalam upaya untuk mengambil kembali barang yang dikorbankan yang diyakini bisa membawa keberuntungan.

Keasrian Malang dan kemisteriusan Bromo adalah kombinasi cita rasa menarik yang membuat wisatawannya selalu rindu.