Nanjing, Kota Indah segudang Sejarah

Selasa, 12 Maret 2013

 

Nanjing, Kota Indah Segudang Sejarah

Yosa Stephanie – Nanjing University of Aeronautics and Astronautics

Nanjing yang memiliki sejarah peradaban sepanjang 6.000 tahun dan sejarah berdirinya kota sepanjang 2.400 tahun disebut sebagai “empat kota kuno Tiongkok yang terkenal” bersama Beijing, Xi’an dan Luoyang. Sejak tahun 229 masehi, terdapat 10 dinasti berturut-turut menjadikan Nanjing sebagai ibukota, maka Nanjing disebut juga sebagai “ibukota 10 dinasti”. Di bawah dan di atas permukaan tanah kota Nanjing sekarang ini tersimpan tak terbilang banyak benda budaya dan patilasan sejarah yang menjadi ciri khas dan keunggulan penting Nanjing di bidang budaya dan sejarah. Benda-benda budaya enam dinasti yang tersimpan di Museum Kota Nanjing tersohor di seluruh dunia.

Kota Nanjing yang terletak di tepi selatan hilir Sungai Yangzi adalah ibukota Provinsi Jiangsu, luas distrik kota 860 kilometer persegi dengan penduduk lebih tiga juta. Daerah yurisdiksinya mencakup kedua tepi Sungai Yangzi. Nanjing yang dulu dinamakan kota Jinling ini memiliki pemandangan alam yang indah, serta patilasan sejarah dan benda budaya yang kaya. Nanjing terkenal pula sebagai kota taman dengan tingkat penghijauan kotanya yang tinggi. Kota Nanjing sekarang ini adalah pusat politik, ekonomi dan budaya Provinsi Jiangsu, juga salah satu pusat perhubungan dan telekomunikasi yang terpenting di daerah Tiongkok bagian timur, dan kota dagang internasional terbesar di Delta Sungai Yangzi setelah Shanghai.

Sungai Qinhuai adalah sebuah sungai yang melintas di kota Nanjing. Sungai itu memberi warna budaya dan sejarah yang kental kepada kota tersebut. Bercerita tentang sungai itu, Fei Zhiming mengatakan, Sungai Qinhuai adalah sungai ibunda warga Nanjing. Sungai yang panjangnya hanya beberapa kilometer itu adalah buaiyan sistem ujian kerajaan di Tiongkok zaman kuno. Di kedua tepi Sungai Qinhuai sekarang ini tampak bangunan rumah bertembok warna merah jambu dan genteng warna merah dengan lampion-lampion besar warna merah yang menghias rumah-rumah itu. Rumah makan, kedai teh, warung makanan kecil dan berbagai hidangan khas berjajar di kedua tepi sungai, terdengar dari rumah-rumah itu alunan musik, menambah suasana khas kota ini. Kalau Anda berminat, boleh menyewa sebuah perahu dengan pendayung putri yang akan membawa Anda menikmati pemandangan di kedua tepi sungai. Pemandangan sangat asyik apalagi di waktu malam yang dihias sinar lampu warna-warni.

Tembok kuno kota Nanjing yang dibangun menyusuri Sungai Qinhuai adalah lambang sejarah. Tembok setinggi 12 meter itu tebalnya antara 7,6 sampai 12 meter. Tembok yang sudah bersejarah ratusan tahun itu sampai kini masih kukuh berdiri. Di tembok itu terdapat 2.000 benteng pertahanan dan 24 gerbang.

Fei Zhiming, salah seorang penelusur dari salah satu anggota biro perjalanan ternama mengatakan pada tembok yang sudah bersejarah 600 tahun ini terdapat banyak lubang bekas tembakan. Ini adalah saksi sejarah. Menurut cerita sejarah, Kaisar Zhu Yuanzhang dari Dinasti Ming ketika membangun tembok tersebut kekurangan dana, maka ia memerintahkan saudagar kaya setempat membiayai pembuatan bata untuk pembangunan tembok kota. Batu bata dibuat di provinsi Anhui dan Jiangxi, lalu diangkut ke Nanjing. Kalau mutu bata tidak memenuhi standar akan dikembalikan. Tapi, kalau yang kedua kalinya masih belum memenuhi persyaratan, saudagar yang bersangkutan akan dihukum mati. Maka, batu bata yang dibuat dengan taruhan jiwa itu sangat tinggi kualitasnya sehingga tembok kota yang dibangun dengan menggunakan batu bata itu masih berdiri kukuh sampai sekarang setelah berlangsung 600 tahun.

Mausoleum Sun Yat Sen

Perjalanan menuju makam atau Mausoleum Sun Yat Sen harus menempuh jalan setapak dihutan sepanjang ratusan meter sebelum mencapai peristirahatan terakhir nasionalis Tiongkok tersebut. Setiap pengunjung harus melewati anak tangga untuk sampai ke lokasi makam. jumlahnya mencapai 392 anak tangga dengan jarak 700 meter dan ketinggian 70 meter untuk mencapai gerbang terbawah makam bapak bangsa Tiongkok tersebut.

Selain anak tangga yang berjumlah ratusan, pengunjung juga harus melewati tiga gerbang. Pada setiap gerbang terdapat tulisan kalimat yang merupakan buah pemikiran Sun Yat Sen. Gerbang pertama bertuliskan ‘bo ai’ yang berarti cinta dunia, gerbang kedua bertuliskan ‘tan xia wei gong’ yang memiliki arti tuan negara adalah rakyat dan kemudian gerbang terakhir yang merupakan pintu masuk bangunan makam bertuliskan tiga semboyan sekaligus. Semboyan itu berbunyi ‘min zhu’, ‘min shen,’ dan ‘min quan’ yang berarti kebangsaan, kehidupan rakyat, dan hak rakyat. kalimat tersebut adalah napas perjuangan Sun Yat Sen ketika menggulingkan dinasti qing dan memerdekakan tiongkok.

Sun Yat Sen meninggal pada 12 maret 1925 di Beijing karena kanker hati. Dan untuk mengenang jasa-jasanya rakyat Tiongkok membangun makam yang indah dipegunungan ZhongShan, Nanjing, yang di arsiteki oleh YanZhi, arsitek terkenal kala itu.

Rata-rata pengunjung makam tersebut mencapai 50 ribu orang saat peak season. bahkan bisa mencapai 100 ribu orang perhari. Mayoritas adalah turis domestik.

Untuk memasuki bangunan tersebut pengunjung harus memutar lewat samping kiri. sesampai didalam, terlihat patung Sun Yat Sen sedang duduk, di bawah patung itu Sun Yat Sen dimakamkan.

Setelah menyaksikan bangunan zaman kuno, kami mengunjungi Jembatan Sungai Yangzi di Nanjing yang selesai dibangun pada tahun 1968. Jembatan dua susun ini, bagian atas adalah jembatan jalan raya sepanjang 4.500 meter dan lebar 15 meter, bagian bawah adalah jembatan kereta api sepanjang 6.700 meter dan lebar 14 meter. Jembatan yang megah itu merentang di atas Sungai Yangzi. Ribuan lampu yang menerangi jembatan itu di malam hari bak untaian mutiara menghias pemandangan malam kota Nanjing. Jembatan tersebut merupakan kebanggaan rakyat Nanjing dan seluruh negeri.

Di Nanjing, banyak jalan dan dermaga diberi nama “Sun Yatsen”. Mengenai hal ini, Fei Zhiming mengatakan, tanggal 1 Juni tahun 1927, suatu upacara yang khitmad dan meriah berlangsung di kota Nanjing untuk menyambut kedatangan peti jenasah Doktor Sun Yatsen, pelopor revolusi demokratis Tiongkok yang diusung ke kota ini dari Beijing. Sejak itu, dermaga, jembatan dan jalan yang dilalui peti jenasah itu diubah namanya menjadi dermaga, jembatan dan jalan Sun Yatsen.