Narasi Jiayou Indonesia

Selasa, 23 April 2013

 

Pernahkah teman-teman berpikir bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar? Dalam artian sesungguhnya wilayah Indonesia secara teritori merupakan wilayah yang sangat besar. Negara-negara Eropa bila dihitung luas teritorinya masih lebih besar luas teritori negara kita. Australia dengan daratan benuanya juga tidak lebih panjang dari wilayah teritori Indonesia sampai batas laut terluar.

Indonesia terkenal dengan bangsa yang super majemuk, kenapa super? Karena hal ini tidak ditemukan di negara-negara lain yang memiliki kemajemukan dan kompleksitas secara sosial seperti yang ada di negara kita. Sumpah Pemuda yang dilantangkan para pemuda pendahulu kitalah yang menyatukan bangsa secara emosional. Kita bangga dengan memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, dan itu bukan sesuatu yang main-main.

Kita lihat Eropa, proses mereka untuk menjadi satu seperti Uni Eropa sekarang adalah proses perebutan kekuasaan, hegemoni, perang, dan desepsi berabad-abad. Kerajaan-kerajaan pada Abad Pertengahan saling hantam, sikat, hajar. Kesepakatan mereka untuk membuat kesatuan yang berupa Uni Eropa dengan badan-badan keuangan, moneter, dan fiskalnya bisa dikatakan karena mereka sudah lelah untuk saling bertengkar mengenai hegemoni tentang siapa yang lebih kuat dan siapa yang bisa ditindas dalam sepanjang sejarah jatuh-bangun peradaban mereka sebagai bangsa Eropa.

Kita juga bisa berpikir sebentar mengenai Amerika dan Australia. Berpikir sebentar secara mendalam, yang dilakukan oleh kedua bangsa itu sebenarnya adalah Kolonialisasi. Amerika dengan sejarah kolonialisasi bangsa Eropa yang datang ke Benua Amerika, dan Kolonial Inggris Raya ke Benua Australia berabad silam. Kolonialisasi yang mereka lakukan untuk memposisikan pendatang sebagai tuan tanah merupakan kenyataan yang mencolok terjadi dan merupakan fakta sejarah dalam kasus Amerika dan Australia.

Bangsa Indian asli yang merupakan pemukim batih dari wilayah Amerika Utara perlahan-lahan tanah mereka diakuisisi dan direbut secara paksa; teman-teman bisa cek di sumber-sumber berita mengenai apa yang terjadi di masa lampau mengenai bagaimana Amerika yang sekarang itu terbentuk. Mulai dari pertempuran Powhatan Confederacy sampai pada The Wounded Knee Massacre, berbagai fakta sejarah tersebut bisa mencerminkan semangat seperti apakah yang terjadi pada masa lalu hingga membentuk Amerika Serikat seperti yang sekarang ini. Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pula di Australia dengan penyingkiran yang dilakukan secara sistematis terhadap bangsa asli Aborigin.

Hal-hal tersebut hanya ingin menyampaikan bahwa semangat kolonialisme seperti itu bukanlah gaya kita, bukanlah semangat kita sebagai warga negara, sebagai bangsa Indonesia. Kita disatukan dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Bila bangsa lain sibuk dengan perang dan pakta-pakta, kita bisa menyelesaikan permasalahan kita cukup dengan musyawarah dan duduk baik-baik. Memang, jatuh-bangun mengenai konflik yang terjadi dalam perjalanan bangsa Indonesia dan NKRI secara keseluruhan tidak bisa dinafikan, itulah yang dinamakan dinamika sosial.

Jiayou Indonesia

Kita tidak akan ribut membicarakan mengenai porsi sejarah terlalu besar dalam kehidupan kontemporer saat ini, namun kesemua fakta sejarah dan fakta faktual juga penting untuk teman-teman semua ketahui.

Teman-teman juga perlu menyadari bahwa teman-teman adalah individu bangsa yang menyandang gelar mahasiswa, yang kalau ditotal jumlahnya tidak lebih dari empat persen dari total populasi Indonesia. Hebat bukan? Kesempatan untuk menjadi seorang individu yang menyandang gelar mahasiswa Perguruan Tinggi merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita semua, seharusnya.

Apalagi bila ditekankan bahwa teman-teman merupakan mahasiswa yang berada di Tiongkok, Cina. ‘Belajarlah walau sampai ke negeri Cina’ sudah teman-teman amalkan dan lakukan saat ini juga. Hal ini merupakan poin plus bagi teman-teman, Tiongkok yang sebegini pesatnya dalam aspek pertumbuhan, terutama ekonomi, seharusnya bisa menjadi semangat teman-teman tidak salah mengambil keputusan untuk berada di teritori Tiongkok untuk melanjutkan studi. Semua hal yang terjadi setiap harinya dalam aktivitas teman-teman, apa yang kita lihat di berita, apa yang para mahasiswa ce-ka terapkan dalam keberlangsungan aktivitas belajar mereka layaknya menjadi pemicu motivasi kita semua.

Narasi ini merupakan narasi yang diperuntukkan bagi deskripsi acara yang sedang dirancang oleh Perhimpunan Pelajar Indonesa di Tiongkok (PPIT) yang bernama Jiayou Indonesia 2013.   Acara ini merupakan gabungan kerja sama dari PPI Dunia, PPIT, dan PERMIT Beijing. Tema besar acara ini adalah ‘Nasionalisme Pelajar dalam Pemahaman Ekonomi yang Berkelanjutan’. Berat ya? Memang, karena acara ini sengaja diadakan untuk menggugah hati dan menyadarkan pikiran teman-teman semua mengenai apa sih yang disebut nasionalisme, apa sih yang disebut ekonomi yang berkelanjutan, apa sih yang terjadi di negara kita dalam hal-hal tersebut. Seberapa penting sih kita sebagai mahasiswa sekarang berperan dalam sesuatu yang berat disebut Ekonomi yang Berkelanjutan. Sabar, peran teman-teman saat ini sudah sangat baik, ekslusif dalam jumlah sebagai mahasiswa, dan berada di Tiongkok dalam menuntut ilmu, itu sudah merupakan sesuatu yang sangat besar.

Nah, semua pertanyaan, pemikiran, dan suara-suara kecil itu bisa teman-teman tahan dulu, dan silahkan hadir pada acara Jiayou Indonesia 2013 yang urutan detailnya sebagai berikut:

Nama Acara: Jiayou Indonesia 2013

Tempat: Peking University International Overseas Hall dan Peking University Lakeview Hotel

Tanggal: 25 Mei 2013

Bentuk Acara:     1. Seminar Ekonomi yang Berkelanjutan

2. Indonesian Night Festival

Pembicara:   1. Bapak Dahlan Iskan (Menteri Badan Usaha Milik Negara)

2. Bapak Isran Noor (Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Se-Indonesia APKASI)

3. Bapak Sohibul Iman (Wakil Ketua DPR-RI Bidang Koordinator Ekonomi dan Keuangan)

4. Bapak Anies Baswedan (Tokoh Pendidikan Muda Nasional dan Rektor Universitas                                Paramadina Jakarta)

5. Bapak Teguh Santosa (Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka)

 

Bintang Tamu:     1. Katon Bagaskara

2. Performer dari Kabupaten Boven Digoel, Papua

3. Performer dari Kabupaten Kutai Timur

4. Performer dari Sanggar Tari Indra Kusuma (berdiri: 1974)

5. Performer PERMIT Beijing

6. Performer dari Mahasiswa Indonesia Lainnya

Detail jadwal acara :

No.   Kegiatan Waktu Tempat Keterangan
PEMBUKAAN (menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya)
Laporan Ketua Panitia Jiayou Indonesia 2013 08.45-08.55 Peking University  
Sambutan Ketua Umum PPI Tiongkok 08.55-09.05 Peking University  
Peking University 09.05-09.15 Peking University  
Sambutan Duta Besar RI untuk Tiongkok 09.15-09.25 Peking University  
Sambutan dan Dialog Interaktif dengan Menteri BUMN 09.25-10.45 Peking University Launching Kartu Tanda Anggota PPI Tiongkok
Dialog Interaktif dengan Ketua APKASI 10.45-12.00 Peking University Pemateri: Bapak Isran Noor
ISHOMA
Dialog Interaktif dengan Wakil Ketua DPR-RI bidang Koordinator Ekonomi dan Keuangan. 13.00-14.10 Peking University Pemateri:

Sohibul Iman, Ph.D.

BREAK
Dialog Interaktif dengan Tokoh Muda Pendidikan Indonesia. 14.25-15.35 Peking University Pemateri:

Anies Baswedan, Ph.D.

BREAK
Dialog Interaktif dengan Pemateri Media 15.50-17.00 Peking University Pemateri:

Teguh Santosa, Pemred Rakyat Merdeka.

ISHOMA
INDONESIA NIGHT

(Indonesia Arts Festival)

19.00 – 22.00 Peking University Penampilan Bintang Tamu Katon Bagaskara, Kebudayaan  dari Papua,  Kab. Kutai Timur.

Semua acara FOR FREE!

Untuk pertanyaan dan informasi, silahkan hubungi Humas Beijing kami di:

Fathan: 13810112634 atau fathan.sembiring@gmail.com