Saksi Bisu Sejarah Perang Dunia ke-II di Harbin

Jumat, 07 Maret 2014

 

PPIT Harbin kembali mengadakan kegiatan bersama-sama dengan para pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Harbin. Acara yang digagas oleh Divisi Olahraga, Rekreasi & Kepemudaan serta Divisi Sosial, Seni & Budaya pada Sabtu (1/3) tersebut memfokuskan pada kunjungan ke situs bersejarah yang terletak di kota Harbin. Sebanyak sepuluh orang pelajar Indonesia serta dua pelajar dari Bulgaria dan Pakistan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Sebenarnya ada beberapa tempat bersejarah yang tersebar di kota Harbin dengan cerita uniknya masing-masing, namun destinasi yang dipilih untuk kegiatan kali ini adalah museum Unit 731 (????????????) yang terletak di distrik Pin Fang, sebelah barat daya kota Harbin. Museum Unit 731 ini merupakan situs bersejarah yang dioperasikan oleh tentara Jepang pada masa pendudukannya di Tiongkok tahun 1937 – 1945 sebagai pusat penelitian dan pengembangan senjata biologis dan kimia.

Pemilihan untuk mengunjungi Museum Unit 731 ini lebih didasarkan pada ketertarikan pelajar Indonesia akan sejarah kelam negara Tiongkok yang mengalami invasi atau penjajahan Jepang yang juga pernah dirasakan oleh Indonesia saat perang Dunia ke-II.

Untuk mencapai tempat ini, dari pusat kota Harbin membutuhkan kurang lebih satu jam perjalanan dengan menggunakan bus umum. Sesampainya di lokasi, kita bisa melihat batu prasasti besar di depan gerbang utama yang memanjang bertuliskan nama dari Museum Unit 731 serta bangunan tua disebelahnya yang mungkin dulu digunakan sebagai pos penjagaan oleh tentara Jepang.

Pada saat Unit 731 ini masih beroperasi, terdapat banyak gedung operasional, barak tentara, kamp-kamp tawanan hinga landasan pacu dan stasiun kereta api, yang menggambarkan betapa besar dan pentingnya tempat ini bagi pasukan Jepang pada masa pendudukannya di Tiongkok. Namun, dari keseluruhan situs bersejarah ini, hanya satu gedung utama saja yang masih tersisa hingga kini yang menjadi saksi bisu sejarah invasi Jepang di Harbin dan masih berdiri kokoh diantara gedung-gedung baru disekitarnya yang dibangun oleh pemerintah setempat sebagai pemukiman warga.

Di dalam bangunan berlantai dua yang sekarang digunakan sebagai museum itu, terdapat 18 ruangan yang memperlihatkan dengan detail sejarah sebenarnya dari Unit 731. Pengunjung yang memasuki gedung museum harus memulai kunjungan dari lantai dua. Di ruangan pertama diperlihatkan terlebih dahulu latar belakang penggunaan senjata biologis dan senjata kimia dalam perang dunia ke-I.

Di beberapa ruangan berikutnya ditampilkan barang-barang bersejarah seperti perlengkapan dan senjata biologis buatan Jepang diantaranya masker penyaring udara dan rudal kimia yang digunakan oleh pasukan Jepang dalam pertempuran. Beberapa diorama pun ditampilkan agar pengunjung dapat lebih mengerti pesan yang disampaikan oleh kurator di museum tersebut.

Museum ini pun dapat menjelaskan dengan sangat gamblang dan detail bagaimana cara tentara Jepang menggunakan manusia sebagai kelinci percobaan mereka. Untuk memperjelasnya, terdapat beberapa ruangan yang menampilkan tayangan video tentang bagaimana perlakuan keji tentara dan peneliti Jepang saat melakukan eksperimen dan uji coba terhadap tawanan di Unit 731 ini yang sangat tidak manusiawi dan kejam.

Namun, setiap manusia pastilah mempunyai rasa bersalah dan iba, ini terlihat dari pengakuan dan penjelasan saksi-saksi yang merupakan mantan tentara Jepang yang pernah bertugas di Unit 731 yang ditampilkan dalam tayangan video dan pernyataan tertulis di lantai satu gedung museum ini. Mantan tentara-tentara Jepang ini yang melihat kebiadaban terjadi dengan mata kepala mereka sendiri merasa tergugah, sehingga mengakui dan membantu dalam menguak misteri yang tersembunyi dalam situs Unit 731 ini.

Sebelum meninggalkan museum, pengunjung pun dikejutkan dengan satu ruangan terakhir yang diperuntukkan bagi para korban Unit 731, dimana ruangan dipenuhi oleh hampir seribu lebih papan kayu tergantung di tembok dengan nama-nama korban terukir di papan tersebut.

Kehadiran museum ini memberikan pengetahuan baru tentang masa pendudukan tentara Jepang di Tiongkok, dimana yang selama ini para pelajar Indonesia umumnya hanya mengetahui tentang kebiadaban tentara Jepang saat menginvasi kota Nanjing  pada tahun 1937.

Selesainya kunjungan dari museum Unit 731, teman-teman pelajar dari PPIT Harbin pun menyempatkan untuk bersantap bersama di sebuah rumah makan mie di sekitar museum. Walaupun terasa lelah, tapi sepertinya rasa lelah tersebut tidak sebanding dengan wawasan baru yang didapat tentang sejarah dan fakta yang didapat dari museum Unit 731 ini. Semoga teman-teman pelajar sekalian dapat mengambil sebuah intisari yang bijak dan pembelajaran penting dari sebuah perjalanan sejarah, meskipun sejarah yang tertulis itu kelam sekalipun, namun seyogyanya tidak memunculkan kebencian, melainkan sebuah kesadaran untuk menerima dan memaafkan sehingga sebagai individu kita akan bisa lebih merdeka.

“Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. … Di ujung sana, Tuhan lebih tahu. (Caping 1, h. 87)” ? Goenawan Mohamad

 

 

Penulis: Indra Putra Salim (Teknik Sipil – S1) Harbin Institute of Technology