Sensasi Naik Roda Raksasa setinggi 160 meter

Kamis, 31 Januari 2013

 

Jelajah Wisata di Nanchang

“Tinggi dan besar, itu adalah kesan pertama melihat Roda Raksasa atau Bianglala Nanchang Star, bahkan dari jarak sekitar lima kilometer Nanchang Star masih kelihatan, bianglala itu adalah salah satu bianglala tertinggi di dunia dan dari atas pemandangannya sangat sensasional, kamu harus kesana!” begitu ungkapan sedikit promosi dari Fang-fang, mahasiswi asli kota Nanchang, teman sekampus penulis.

Penulis sendiri tinggal di Nanchang dalam rangka menempuh beasiswa kuliah di Nanchang University sejak akhir tahun 2011 lalu.

Nanchang, salah satu kota di China bagian tenggara mungkin bagi kita belum familiar mendengar nama kota ini karena biasanya kalau mengenai China kota-kota yang populer adalah seperti Shanghai, Ghuangzhou, Nanjing, Hongkong atau ibukota negara Beijing dan itu dibuktikan ketika penulis dan teman-teman memesan tiket pesawat ke sebuah agen travel di Semarang malah agennya bertanya Nanjing ya mas? padahal dua kota itu berbeda.

Kota Nanchang adalah ibukota dari propinsi Jiangxi, China tenggara, jaraknya sekitar satu setengah jam naik pesawat atau 12 jam naik kereta api jenis biasa dari Ghuangzhou.

Kota ini dipisah oleh sungai besar yang bernama Sungai Ganjiang anak Sungai Yangtze yang bermuara di danau Poyang salah satu danau terbesar di China.

Memiliki objek wisata cukup banyak meliputi wisata alam, wisata sejarah dan wisata modern, diantaranya Bianglala Nanchang Star setinggi 160 meter, Pavilion Pangeran Tengwang dari dinasti Tang, Monumen Satu Agustus, Jembatan Satu Agustus, Museum Pemberontakan Nanchang, Danau Poyang, Gunung Lushan dan Gunung Meiling.

Selain memiliki objek wisata yang cukup banyak, di kota yang memiliki penduduk sekitar 4 jutaan  ini juga terkenal dengan penduduknya yang ramah dan biaya hidupnya yang relatif murah karena biaya hidup di kota ini tidak semahal kota-kota besar di China karena jika di kurskan ke Rupiah hampir sama dengan biaya hidup di kota Semarang

Bianglala 160 meter

Apa yang terbayang jika anda naik bianglala setinggi sampai 160 meter? Ya, bianglala yang bernama Nanchang Star atau bahasa Mandarinnya Nanchang Zixing ini memiliki tinggi 160 meter, bianglala yang di bangun tahun 2004 dan mulai beroperasi 2006 ini pernah menduduki bianglala tertinggi pertama di dunia sebelum “dikalahkan” oleh bianglala Singapore Flyer dari Singapura tahun 2008 setinggi 165 meter yang selisih tingginya hanya lima meter

Bianglala ini terletak di pinggir sungai Ganjiang yang membelah kota Nanchang, memiliki 60 kapsul atau bilik, setiap kapsul mampu menampung sekitar 8 orang dan setiap kapsulnya dilengkapi dengan TV LCD serta sistem pendingin ruangan.

Setiap putarannya dari bawah sampai bawah lagi membutuhkan waktu sampai 30 menit, jadi anda dijamin puas di dalamnya, apalagi ditunjang dengan pemandangan yang sangat indah, selain pemandangan sungai Ganjiang juga pemandangan lanskap kota yang dipenuhi bangunan pencakar  langit bagai melihat kubus yang tertata di maket.

Bianglala ini buka setiap hari dan semakin ramai kalau akhir pekan dengan harga tiketnya 50 Renminbi, sekitar Rp. 75.000 (kurs Rp. 1500/yuan) dan dapat di jangkau sekitar satu jam dengan naik taksi dari bandara Internasional Nanchang.

Pavilion Tengwang

Jika anda penyuka sejarah klasik China anda jangan sampai melewatkan situs bersejarah ini, Istana atau Pavilion Tengwang atau dalam bahasa mandarinnya Tengwang Ge Xuji adalah satu dari empat bangunan menara tinggi atau pagoda bersejarah di China, bangunan dengan arsitektur klasik yang sangat indah.

Dibangun oleh Li Yuanying tahun 653 Masehi pada masa dinasti Tang, Li Yuanying adalah adik Kaisar Taizong salah satu kaisar dinasti Tang, tahun 652 Masehi dia diangkat jadi gubernur Nanchang dan setahun kemudian dia membangun pavilion atau istana ini.

Istana Tengwang terletak di pinggir sisi utara sungai Ganjiang menghadap ke gunung Meiling dan terletak di pusat kota yang dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi sehingga kesannya ketinggian bangunan ini tampak tenggelam,  mempunyai tinggi sekitar 57 meter dengan tangga memutar, tapi anda tidak perlu berlelah-lelah naik lewat tangga karena di sediakan lift, tapi setiap naik dikenakan tarif 1 yuan atau Rp. 1.500 di luar biaya tiket masuk.

Situs ini karena berbagai hal sudah 29 kali di pugar, pemugaran terakhir tahun 1989, tiap lantainya berisi relief dan lukisan yang menggambarkan pemandangan dan sejarah masa itu.

Selain relief dan lukisan tiap lantainya juga ada toko souvenir mulai dari gantungan kunci, batu giok sampai jenis-jenis senjata, di lantai kedua dari atas adalah lantai tempat pertunjukan musik tradisional yang dimainkan sekitar 20 menit dan dimainkan tiap satu jam dan lantai paling atas adalah tempat pangeran menjamu tamu-tamunya menghadap ke sungai Ganjiang.

Di sisi selatan dan utara bangunan utama ada bangunan pavilion kecil dengan model arsitektur yang hampir sama.

Dengan Tiket masuk 50 Renminbi anda sekaligus bisa mencari cenderamata atau oleh-oleh di sekitar istana ini yang jumlahnya cukup banyak.

Mulai dari cenderamata batu giok sampai makanan kecil khas propinsi Jiangxi dan disini satu-satunya tempat yang menyediakan souvenir dan makanan kecil paling lengkap yang penulis  temukan di kota Nanchang

Gunung Lushan

Salah satu gunung yang sangat populer di China dengan panoramanya yang sangat indah terutama ketika musim semi dan panas, tempat wisata ini berjarak sekitar dua jam dari kota Nanchang dengan naik kereta api atau mobil carteran, terletak di sisi utara kota Nanchang berjarak sekitar 160 kilometer, tempat wisata ini mulai tahun 1996 masuk dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO

Bagi wisatawan domestic, Gunung Lushan adalah salah satu tempat favorit ketika musim libur tiba, tak heran ketika musim libur seperti hari kemerdekaan China tiap satu Oktober dipenuhi oleh ribuan pengunjung.

Gunung Lushan adalah salah satu pusat peradaban spiritual China dan terkenal dengan fitur-fiturnya yang indah, elegan dan spektakuler yang mencakup jurang, air terjun, gua-gua, batu dan anak sungai.

Tempat-tempat yang terkenal disini antara lain Taman Geologi Lushan, Kebun Raya, Villa Meilu yang merupakan bekas villa Chiang Kai Shek yang dinamai seperti istrinya, Song Meiling, jalan-jalan melalui Jalur Bunga di tepi tebing barat, yang menyajikan pemandangan yang luar biasa ke Lembah Jinxiu dimana bunga selalu mekar dan indah.

Paviliun Imperial Stele, yang dibangun oleh Kaisar Ming pada abad ke-14 untuk memperingati pertemuannya dengan Tao nan abadi, Kolam Black Dragon, tempat dimana lima aliran sungai turun ke atas sebuah batu besar dan membentuk kolam yang menurut legenda dihuni oleh seekor naga hitam, dan Tiga Pohon Berharga yang menurut legenda ditanam oleh biksu Budha Tan Xi pada 1500 tahun yang lalu. Dari kawasan ini juga Teh Lushan berasal yaitu salah satu teh yang terkenal di China.

Jalan-jalan di kota Nanchang tidak lengkap kalau tidak menjelajahi kuliner dan mencari oleh-oleh, karena sebagai seorang muslim maka penulis mencari masakan halal, Alhamdulillah, relatif cukup mudah menemukan restoran kecil yang halal di kota ini. Restoran muslim biasanya dimiliki oleh suku muslim China Uighur atau suku Hui, ada tulisan khusus disetiap restoran muslim China yang menandakan masakan itu halal, biasanya dicirikan dengan tulisan Qingzhen (istilah islam dalam bahasa mandarin) atau paling mudah biasanya restoran tersebut di depannya bercat hijau dengan lambang bulan  bintang.

Masakan yang cukup terkenal dari kuliner muslim China adalah mie Lamian sejenis mie kuah, dan yang menarik mie disajikan dari adonan yang masih dalam bentuk belum jadi, baru ketika ada orang beli adonan tersebut dibuat mie dengan ditarik berulang-ulang oleh pembuatnya sampai menjadi mie setelah itu dimasukkan ke panci yang berisi air panas untuk direbus sekitar lima menit

Di pusat kota di sekitar lapangan Monumen Satu Agustus yang jadi ikon kota Nanchang atau alun-alunnya Nanchang penulis menemukan ada dua restoran muslim kecil dan harga menunya sangat terjangkau sekitar antara 5 yuan-20 yuan atau sekitar Rp. 7000-30.000 tergantung jenis menunya, kalau mie Lamian yang berkuah biasanya sekitar 7 yuan per mangkoknya.

Mencari oleh-oleh selain bisa di tempat wisata juga bisa di pasar Wan Shuogong di samping Museum Satu Agustus Nanchang di jalan Zhongshan Lu atau sekitar dua kilometer dari Monumen Satu Agustus, di pasar ini tersedia berbagai macam produk fashion dan tekstil dengan berbagai macam pilihan dan tentu yang paling menarik adalah bisa tawar menawar.

Menjelajahi kota Nanchang waktu yang paling ideal adalah waktu musim gugur di bulan September-Nopember atau paling nyaman dan indah pada waktu musim semi bulan Maret-Mei, karena kota Nanchang  jika musim dingin sangat dingin sampai minus empat derajat dan jika musim panas suhunya bisa mencapai 40 derajat dengan angin yang sangat kering.

Kota Pahlawannya China

Nanchang adalah kota penting dalam sejarah modern China, kota ini mendapat sebutan kota Pahlawan karena dari kota ini banyak lahir pahlawan dalam sejarah modern China, dari kota inilah muncul peristiwa Pemberontakan Nanchang yang sangat terkenal dalam perjalanan militer China modern.

Pemberontakan Nanchang adalah perlawanan tentara Merah di bawah partai komunis China yang melawan tentara Partai Kuomintang atau Partai Nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai Shek, peristiwa ini berlangsung pada tanggal 1 Agustus 1927, walaupun akhirnya bisa diredakan tapi tentara yang tergabung dalam tentara merah  ini akhirnya membentuk Tentara Rakyat dan Buruh Tiongkok.

Peristiwa tersebut dijadikan sebagai awal lahirnya The Peoples Liberation Army (PLA) atau Tentara Pembebasan Rakyat China dan setiap tahun diperingati sebagai hari militer, Satu Agustus dalam bahasa mandarinnya adalah Ba Yi (baca: Pa-I), Ba berarti bulan delapan dan Yi berarti tanggal satu, istilah yang sangat populer dalam sejarah modern China, dalam logo atau bendera angkatan militer China pasti menyertakan tulisan ini sebagai penanda tanggal tersebut adalah lahirnya militer China.

Di kota Nanchang peristiwa ini ditandai dengan adanya Lapangan Monumen Satu Agustus atau Ba yi Ghuangchang (baca: Pa-I Kuangchang) di tengah kota, monumen ini setinggi sekitar 30 meter dan terletak di tengah lapangan seluas sekitar 10 hektar di jalan Bayi Dadao, tiap hari kemerdekaan 1 Oktober dan Hari Militer lapangan ini di gunakan sebagai upacara peringatan.

Setiap sore di depan monumen ini dipenuhi orang melihat pertunjukan air mancur yang bisa menari mengikuti alunan musik yang diputar dan musik yang diputar biasanya musik perjuangan atau musik militer selama 30 menit.

Sekitar dua kilometer tidak jauh dari monumen tersebut terdapat Museum Pemberontakan Nanchang di jalan Zhongshan Lu, museum ini dulunya adalah Hotel Grand Jiangxi, pada waktu itu hotel ini digunakan sebagai markas Tentara Merah pimpinan Zhou Enlai dalam mengatur dan memimpin komando melawan tentara partai Kuomintang.

Berkunjung di museum ini, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, cukup dengan menunjukkan kartu identitas diri atau paspor bagi orang asing, museum tiga lantai ini berisi tentang sejarah pertemuan Zhou Enlai dalam mengatur strategi dan divisualisasikan dalam bentuk diorama.

Di bangunan belakangnya ada monumen simbol senjata yang tegak berdiri dengan di pegang oleh tangan setinggi sekitar 5 meter, dan di ruangan sampingnya adalah tempat foto-foto dan dokumen terpajang dalam bentuk tulisan di kertas maupun tulisan di dinding.

Jika kita tidak paham tulisan China tidak perlu khawatir karena di museum ini setiap tulisan China biasanya ada keterangan dalam bahasa Inggris, hal yang sangat lazim di temukan di tempat-tempat wisata China dimanapun.

Selain dokumen ada juga bermacam-macam senjata yang digunakan pada waktu itu serta tampilan dalam bentuk film. (Ahmad Syaifuddin Zuhri)