Wawancara Harian Kompas dengan PPI Tiongkok tentang Pemilu 2014

Sabtu, 05 April 2014

 

Wawancara Harian Kompas dengan PPI Tiongkok yang diwakili oleh Ketua Pelaksana Harian PPI Tiongkok Christine Susanna Tjhin:

1. apa saja yang dilakukan PPI untuk pemilu kali ini?

Sesuai AD/ART, PPI Tiongkok tidak memihak dan tidak terikat pada organisasi politik mana pun. Kami secara antusias dan proaktif mendukung penyuksesan Pemilu 2014 dengan mendorong partisipasi Pemilih, melalui 3 jenis kegiatan:

(1) Dukungan teknis, seperti membantu menyebar info-info pemilu, melacak pemilih yang belum terdaftar dan fasilitasi distribusi surat suara, contohnya: koordinasi sejumlah pengurus Cabang dengan PPLN Beijing dalam distribusi surat suara di kota Nanchang Wuhan Chongqing Hefei Harbin Shenyang Qingdao. dan dropbox di Tianjin. Pengurus Cabang menerima paket surat suara lalu meneruskannya ke pelajar, lalu pelajar itu sendiri yang mengirim kembali ke PPLN. Surat suara yang belum tercoblos akan dikembalikan Ke PPLN.

(2) Meningkatkan pemahaman dan minat Pemilih dengan pendidikan pemilih, spt seminar kerjasama dengan KBRI Beijing bersama para pakar dari thinktank CSIS Jakarta yang membahas perkembangan Politik dalam negeri menjelang pemilu dan kebijakan politik luar negeri paska pemilu.

The Habibie Centre juga mengajak kami berdialog dengan mantan Presiden Habibie di Beijing (Tsinghua University) dan Shanghai. Beliau berbicara tentang perkembangan Politik di Indonesia serta pentingnya untuk tidak golput dan potensi mendorong hubungan ekonomi berbasis sosial budaya RI-RRT.

(3) Kegiatan kreatif seperti Pengurus Cabang Harbin dengan sosialisasi Donor Darah bersamaan dengan Pemilu.

Ketua PPI Tiongkok Cabang Harbin, saudara Bagus P. Bhirawa menjelaskan kalau acara dimulai terlebih dahulu dengan Sosialisasi Donor darah dan berbagi pengalaman yang di mediasi oleh divisi Sosial & Budaya, dengan tujuan untuk mengajak dan memberikan informasi yang komprehensif tentang manfaat dari donor darah, serta ingin menjadikan kegiatan donor darah sebagai kegiatan rutin di Cabang Harbin.

Pemilihan umum legislatif ini baru pertama kalinya dilaksanakan di Harbin, dan tercatat sebanyak 25 pemilih tetap yang terdaftar yang kesemuanya adalah pelajar terlihat sangat antusias untuk menyalurkan suaranya. Karena sebagian besar yang berpartisipasi adalah pemilih pemula, maka terlebih dahulu dipresentasikan tentang manfaat dari Pemilu dan hak konstituen oleh divisi Pendidikan & Penelitian.

2. bagaimana kpu dalam menyiapkan pemilu kali ini? lebih siap dari pemilu dulu? Adakah kritik buat KPU?

Pertama soal DPT harus dibenahi sambil mengupayakan agar koordinasi kpu pusat dan PPLN bisa lebih efektif lagi. Berat juga tugas PPLN mengantisipasi situasi lokal, apalagi negara sebesar Tiongkok. Lambatnya respon KPU Pusat akan berdampak bagi pemilu di sini. Daftar yang muncul belum ter-update sepenuhnya secara akurat. Ada yang belum tercatat atau sudah kembali ke tanah air tapi namanya masih terdaftar.

Kedua, sosialisasi Pemilu dan program-program para caleg di Dapil DKI 2. Salah satu faktor keengganan Pemilih luar negeri untuk hadir adalah karena masih banyak yang tidak tahu apa-apa tentang prosedur dan caleg-caleg ini.

3. Bagaimana antusiasme para pelajar indonesia dan pekerja indonesia di Tiongkok dalam menyambut pemilu kali ini? Masih adakah yang cuek dan memilih tak datang ke TPS?

Statistik total partisipasi pemilu belum selesai dihitung karena masih menunggu surat suara dari beberapa kota melalui pos dan masih ada beberapa wilayah yang menunggu TPS dibuka seperti Guangzhou..

Hingga saat ini dr Cabang2 yang sudah partisipasi, angka partisipasi di Beijing secara nominal lebih besar dari Nanchang tapi secara proporsional dengan total DPT angkanya lebih kecil.

Kami sendiri menilai antusiasme Pemilih dari aspek jumlah dan aspek kualitas partisipasi itu juga, apalagi dengan adanya partisipasi organisasi2 pelajar dalam lingkar PPI Tiongkok.

Dari pengamatan PPI Tiongkok yang Cabangnya saat ini tersebar di 19 kota, partisipasi di wilayah yang sudah mencoblos secara umum cukup antusias dan bersemangat.

Memang masih ada yang cuek atau malas nyoblos di Pileg karena tidak kenal caleg-nya. Tapi Pilpres nanti pasti akan lebih dinamis.

4. Bagaimana pelaksanaan pemilu lewat sistem pos dan dropbox? Kami dengar, ada yang sistem dropbox tapi surat suaranya langsung dihitung, padahal penghitungannya kan harus menunggu nanti tanggal 9 April – 15 April? Apakah isu itu benar?

Tidak benar. Pengurus Harian Pusat PPI Tiongkok sudah mengklarifikasi dengan Ketua Cabang Tianjin, saudari Wijayani Mardiana beserta rekan lain yang membantu mengawasi proses tersebut dan hadir saat Kotak disegel.

Sepemahaman kami, yang dihitung oleh petugas adalah surat suaranya, bukan perolehan suara. (tersedia 130 surat suara berdasarkan DPT Tianjin, yang hadir mencoblos 49, selebihnya belum terpakai 81). Perolehan suara baru dihitung 14 April nanti.

Mungkin bisa diklarifikasi juga Ke PPLN Beijing dengan Ketuanya Sugeng Wahono email pplnbeijing@yahoo.com cc dan sgg.wahono@yahoo.com)

Pertanyaan sebagai pribadi:
1. Bagaimana perasaan Anda, sebagai warga negara yang difasilitasi memilih di negeri orang?

Senang sekali dan agak deg-degan karena Pemilu ini merupakan kesempatan saya untuk ikut langsung menentukan nasib bangsa. Agak gelisah juga karena waktunya tidak berbarengan dengan tanah air.

2. Apa yang membuat Anda datang ke TPS dan tidak golput?

Ada banyak perubahan baru telah terjadi di penjuru tanah air selama ini yang membawa harapan baru. Muncul tokoh-tokoh muda baru yang inspirasional yang berlatarbelakang beragam. Banyak relawan yang turun tangan.

Selain itu, saya pribadi sebagai etnis Tionghoa merasa terinspirasi dengan peningkatan partisipasi Tionghoa di beragam sektor. Di pemerintahan kita melihat Mari Pangestu dan Ahok. Di level masyarakat, ada Esther Jusuf, Dokter Lie, Prof. Yohannes Surya, dll. Di Pemilu juga ada caleg-caleg Tionghoa yang meramaikan. Tidak semuanya sempurna dan memang banyak yang masih perlu dibenahi, tapi ini indikasi positif yang membuat saya bersemangat.

Di saat yang sama, tenun kebangsaan kita tercabik oleh konflik horisontal dan krisis kebangsaan. Masih ada korupsi dan dosa-dosa sejarah yang belum terselesaikan, banyak korban belum mendapat keadilan. Kalau bukan sekarang turun tangan, kapan lagi?

3. Apa harapan Anda terhadap pemilu kali ini?

Saya pribadi berharap agar bisa menjadi Pemilu yang Damai dan Mendidik.
Damai dari kekerasan baik fisik maupun non-fisik seperti menyebar rasisme,. radikalisme berkedok agama, manipulasi politik dll.
Mendidik, melalui kampanye program yang santun, bersih, ramah lingkungan, berkebangsaan yang plural dan visioner. Jangan biarkan pembodohan publik terjadi.

4. Bagaimana tanggapan Anda dengan sistem pemilu di luar negeri yang dipercepat (early voting), ini kan sejarah baru dalam pemilu indonesia? apakah memang partisipasi masyarakat menjadi naik dg early voting ini?  Lalu kelemahannya kan pasti ada, seperti apa yang Anda amati di Tiongkok?

Saya sebenarnya heran dengan sistem early voting ini. Apa alasannya? Mempercepat proses penghitungan suara keseluruhan?

Potensi penyelewengan suara itu ada dan ada pengawas independen pun akan sulit memastikan kotak aman. Saya pribadi tentunya masih percaya dengan integritas PPLN di Tiongkok. Tapi tak bisa dipungkiri, resiko itu ada. Mana tau dibobol maling? Apa kita harus pasang tenda di depan gerbang KBRI dan meronda setiap saat di sana? Bisa-bisa diciduk Tentara PLA yang patroli di sana nanti, dianggap onar dan dideportasi. 🙂 Mungkin ini lebay tapi intinya resiko kan ada.

Pemilih luar negeri, yang pada dasarnya kurang/tidak mendapat sosialisasi KPU yang layak, harus kehilangan waktu sekitar seminggu untuk mencari tahu tentang Pemilu dan info caleg2.

Ini membuat saya mempertanyakan apa KPU memandang Pemilih luar negeri cukup penting.

5. Silakan jika ada uneg-uneg yang ingin disampaikan kepada KPU atau pemerintah terkait pemilu kali ini.

Sebenarnya ini untuk semua pihak – KPU, pemerintah, partai Politik, para caleg, para Pemilih, para aktivis, LSM, para stakeholders:
Sebenarnya Pemilih luar negeri itu penting atau tidak? Mohon dipertimbangkan kalau Pemilih luar negeri punya Hak yang setara sebagai WNI untuk ikut menentukan nasibnya dan punya kekhasan sebagai jendela Indonesia melihat dunia dan jendela dunia melihat Indonesia. Dengan lebih dilibatkan dalam proses Pemilu, rasa kepemilikan dan keinginan menjadi Indonesia akan lebih besar, sehingga semakin menyemangati mereka untuk memboyong manfaat terbesar dunia untuk Indonesia.