“LDK PPIT HARBIN 2014: Kami Duta Bangsa Indonesia”

Pada sabtu (09/13) bertempat di stasiun kereta api timur kota Harbin atau dalam bahasa mandarin disebut Hadongzhan, sebanyak 35 pelajar Indonesia sudah berkumpul sejak pagi hari. Sembari menahan kantuk, mereka tetap semangat untuk bersama-sama berangkat ke daerah wisata pegunungan di Harbin, yaitu Mao Er Shan. Keberangkatan mereka ini dalam rangka mengikuti latihan dasar kepemimpinan atau LDK yang dikemas dalam bentuk outbond sekaligus juga sebagai acara penyambutan bagi mahasiswa baru. Keseluruhan acara ini adalah rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok cabang Harbin.

Kegiatan dengan tema “Kami Duta Bangsa Indonesia” ini adalah kegiatan perdana yang dilaksanakan di luar kota Harbin. Panitia yang terdiri dari pengurus dan anggota PPIT sebenarnya sudah merancang kegiatan ini semenjak awal tahun, namun pelaksanaannya baru dapat terwujud pada periode semester winter 2014 ini. Selama di perjalanan seluruh peserta terlihat sangat antusias sebab ini baru pertama kalinya mereka bepergian bersama-sama ke gunung. Canda dan tawa diantara peserta membuat perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam itu tidak terasa lamanya.

IMG_4507

Erwin Chandra selaku ketua panitia, menuturkan bahwa tujuan diadakannya LDK ini adalah untuk menumbuhkan rasa keakraban dan kekompakan diantara para pelajar Indonesia di Harbin. Senada dengan Erwin, Felicia Putri Hernat selaku sekretaris PPIT Harbin bersyukur bahwa pelaksanaan LDK ini mampu mengajak hampir 90 persen pelajar Indonesia untuk ikut berpartisipasi serta menurutnya acara ini merupakan cara yang baik untuk menjalin kebersamaan.

Setibanya di Mao Er Shan, seluruh peserta langsung bertolak ke hotel yang kebetulan tepat berada di kaki pegunungan. Acara pertama dimulai dengan membagi seluruh peserta kedalam lima kelompok guna mengikuti sesi permainan yang dirancang sedemikian rupa agar peserta di tiap kelompok bisa saling kompak dan unggul. Beberapa lomba yang dilakukan dalam sesi permainan ini dibuat semenarik mungkin dengan tingkat kesulitan yang berbeda, antara lain; permainan pulpen menggunakan karet gelang, menara orang, sulaman rafia, balapan dengan kaki terikat, dan memasukkan pena kedalam botol. Suasana kehangatan dibarengi dengan canda tawa dan kegembiraan terlihat dari tiap peserta pada sesi permainan ini. Di akhir sesi, dilakukan perhitungan nilai untuk mengetahui kelompok dengan nilai terendah yang nantinya akan mendapat hukuman berupa tampil di acara api unggun pada malam harinya. Setelah puas dengan sesi permainan, akhirnya seluruh peserta bersantai sejenak dengan bersantap siang bersama sembari menikmati pemandangan gunung yang indah dan menjulang tinggi.

Siang harinya kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang merupakan puncak dari kegiatan LDK yaitu pendakian gunung. Mao Er Shan sendiri secara harafiah berarti gunung topi, hal ini disebabkan karena bentuk puncak gunung yang mengerucut seperti bentuk topi dan merupakan yang tertinggi di daerah ini. Pendakian gunung memakan waktu sekitar hampir dua setengah jam dan sesekali tampak para peserta beristirahat sejenak di tempat peristirahatan yang telah disediakan. Jalan setapak, jajaran anak tangga dan tebing terjal harus ditempuh oleh peserta untuk sampai di puncak gunung. Kegiatan yang cukup menguras fisik ini terbayarkan dengan pemandangan indah dan menakjubkan sesampainya mereka di puncak. Foto bersama pun dilakukan sebagai kenang-kenangan atas pencapaian mereka mendaki gunung Mao er shan. Pada sore harinya, setelah kembali di penginapan para peserta tampak kelelahan, namun mereka merasa bangga karena telah mampu menaklukan gunung Mao Er Shan.

Sebelum sesi malam keakraban dan api unggun dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu bersantap malam bersama untuk mengisi kembali tenaga yang terkuras dari memanjat gunung. Sesi ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu, karena akan ada penampilan dari kelompok dengan nilai terendah pada sesi permainan sebelumnya. Di sesi ini juga para peserta diajak untuk unjuk kebolehan dalam bidang seni dan tidak diduga ternyata banyak dari mereka yang mahir dalam bernyanyi dan bermain gitar. Meskipun hawa malam itu cukup dingin tetapi tidak menyurutkan semangat untuk berkumpul bersama sambil bercanda dan berbincang mengelilingi api unggun dengan suasana keakraban.

Sambil bermain kartu serta menyantap makanan ringan seperti sosis, jagung dan marshmallow bakar, para peserta terlihat sangat menikmati sesi api unggun ini untuk sekaigus melewati malam bersama di sana. Sesi ini menjadi lengkap setelah beberapa pengurus PPIT Harbin juga ikut memberikan sambutan berupa pengenalan organisasi, berbagi pengalaman serta memotivasi dan mengajak para mahasiswa baru untuk aktif sebagai kader di organisasi dalam kepengurusan PPIT Harbin mendatang.

Keesokan paginya, salah satu peserta yang juga adalah seorang pendeta, memimpin ibadah singkat minggu. Setelah sarapan pagi, panitia memberikan waktu bebas kepada seluruh peserta guna beraktivitas mulai dari olahraga sampai bermain kartu. Kegiatan LDK ini pun ditutup pada siang harinya dengan sambutan dan juga pembagian sertifikat oleh Bagus Bhirawa Putra selaku ketua PPIT Harbin. Setelah melakukan foto bersama dengan latar belakang gunung Mao Er Shan, akhirnya rombongan bertolak kembali ke Harbin. Di perjalanan pulang pun, semangat keakraban masih terasa, terlihat dari bagaimana mereka masih saling mengobrol hangat dan bercanda tawa di kereta api. Erwin mengungkapkan secara garis besar beberapa esensi pokok dari pelaksanaan LDK ini yaitu menumbuhkan rasa keakraban, saling kerjasama dan kekompakan terlihat dari seluruh peserta yang berpartisipasi. Tampaknya momen dua hari ini telah merajut hubungan yang erat dan kenangan yang penuh rasa suka cita.

Penulis: Felicia Putri Hernat dan Divisi Media & Informasi PPIT Harbin