Diplomasi APEC dari Tiongkok

Oleh: Ahmad Syaifuddin Zuhri*

Harian Suara Merdeka, 5 November 2014

Beijing akan menjadi tuan rumah pertemuan APEC (Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik) pada 5-11 November dan puncaknya adalah Pertemuan Pemimpin Ekonomi ke-22 pada 10-11 November 2014. Dalam pertemuan ini Presiden Joko Widodo dalam agendanya akan menghadiri dan menjadi lawatan internasional yang pertama kali.

APEC adalah singkatan dari Asia-Pacific Economic Cooperation atau Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik. Didirikan pada tahun 1989 di Canberra Australia yang bertujuan untuk menguatkan pertumbuhan ekonomi dan mempererat komunitas di negara kawasan Asia Pasifik.

Mempunyai 21 anggota yakni Amerika Serikat, Brunei Darussalam, Australia, Chile, Tiongkok, Filipina, Hongkong, Indonesia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Papua Nugini, Peru, Rusia, Selandia Baru, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam.

21 anggota tersebut mewakili 41 persen populasi global, 49 persen perdagangan internasional, dan 56 persen PDB dunia. Menurut perkiraan IMF, Tiongkok akan memberikan kontribusi 27,8 persen dari pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2014. pembangunan berkelanjutan dan pengaruh Tiongkok akan menjadi mesin yang kuat untuk pengembangan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik dan lebih jauh.

 

Dalam APEC kali ini, Tiongkok menyiapkan sangat serius mulai dari lokasi penyelenggaraan sampai isu yang akan diangkat dengan istilah “prioritas diatas prioritas”. Karena sangat pentingnya acara ini, Pemerintah kota Beijing dan diikuti oleh provinsi Hebei dan kota Tianjin -dua wilayah yang mengelililngi Beijing- untuk meliburkan kantor institusi pemerintahan, sekolah dan lembaga pendidikan umum mulai 7-12 November serta menghimbau masyarakat untuk menggunakan fasilitas transportasi umum yang bertujuan untuk mencerahkan udara dan mengurangi kemacetan parah di ibukota tersebut.

 

Tiongkok, sebagai tuan rumah akan fokus dalam pertemuan tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi terbesar untuk memperkuat pembangunan di wilayah Asia-Pasifik. Dengan pertumbuhan ekonomi global masih terpuruk dan perekonomian Tiongkok melambat, negara-negara di kawasan Asia Pasifik sangat dinantikan untuk memainkan perannya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi regional dan global.

Misi Tiongkok

 

Tiga isu utama yang diangkat oleh Tiongkok dalam APEC yang bertema “Shaping the future through Asia Pasific Partnership” tersebut yakni mempromosikan integrasi ekonomi regional, memajukan pertumbuhan ekonomi dengan reformasi dan teknologi dan untuk memperkuat pembangunan infrastruktur dan komunikasi yang komprehensif.

Menteri Luar Negeri Wang Yi dalam sambutannya di Lanting Forum mengatakan bahwa KTT APEC kali ini akan mengangkat isu utama yakni menciptakan Asia-Pasifik Free Trade Area (yang juga dikenal sebagai Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik, atau FTAAP). FTAAP adalah salah satu strategi Tiongkok untuk mempromosikan integrasi regional dan akan menjadi alternatif kepada pimpinan AS yang membuat Trans-Pacific Partnership (TPP).

 

Sesuai dengan visi Tiongkok, FTA ini secara efektif akan menolak perjanjian perdagangan bebas yang sedikit demi sedikit yang saat ini ada atau masih berada di bawah negosiasi di antara negara Asia-Pasifik. Wang mengatakan “FTTAP akan membantu untuk mengintegrasikan mekanisme kerjasama bilateral dan multilateral regional dan mengurangi risiko tumpang tindih dan fragmentasi”. Ia berpendapat bahwa FTA ini “akan memecahkan masalah yang disebabkan oleh hambatan antara FTA yang berbeda, seperti regulasi dan persyaratan yang berbeda.”

Walaupun gagasan awal FTAAP sudah sekitar satu dekade lalu, Fred Bergsten (2006) dari Peterson Institute for International Economic berpendapat bahwa “FTA Asia Pasifik adalah langkah APEC berikutnya”

Dari perspektif Beijing, FTAAP yakni interkoneksi wilayah Asia Pasifik dengan Tiongkok sebagai pusat pertumbuhan ekonomi terbesar. Untuk melengkapi Rencana Tiongkok lainnya yakni Integrasi Ekonomi, Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dan Jalur Sutra Maritim, yang berarti bahwa ekonomi di kawasan ini harus lebih terintegrasi. Kedua inisiatif tersebut juga fokus pada konektivitas literal – transportasi dan infrastruktur untuk menghubungkan negara-negara Asia-Pasifik. Tiongkok juga bermaksud untuk menekankan ini di APEC dengan mendorong membuat “cetak biru” untuk interkonektivitas transportasi di Asia-Pasifik (jalan raya, kereta api, lalu lintas udara) dan regulasi.

Tiongkok ingin menjadi contoh kepemimpinan serta penekanan integrasi ekonomi dan interkonektifitas dan juga memosisikan dirinya sebagai pemimpin komunitas Asia atau dalam istilah Beijing yaitu Tiongkok dan Asia Pasifik adalah bagian dari “Komunitas yang berbagi masa depan”

Dalam konsep ini, Tiongkok menekankan bahwa keberhasilannya adalah pendorong utama untuk keberhasilan regional. Tiongkok telah memberikan kontribusi lebih dari 50 persen dari pertumbuhan ekonomi di Asia.

FTTAP yang akan ditekankan oleh Tiongkok dalam APEC kali ini akan “berhadapan” dengan konsep TPP (Trans Pacific Partnership) AS. Strategi AS di Asia-Pasifik telah menjadi faktor penting yang mempengaruhi perkembangan APEC. Akhir-akhir ini, upaya Washington untuk mempromosikan negosiasi TPP dalam kerangka APEC sebagian besar mempengaruhi arah pengembangan APEC.

Meskipun AS mengklaim tujuan akhir dari TPP adalah untuk membangun sebuah kawasan perdagangan bebas dalam kerangka APEC, banyak negara anggota APEC tidak dilibatkan dalam perundingan TPP karena mereka belum mencapai standar tinggi yang ditetapkan oleh AS. Hasilnya: APEC telah “terbagi” menjadi kelompok TPP dan non-TPP.

Ketika APEC dibentuk, tujuan utama AS adalah untuk meningkatkan integrasi ekonomi. Tetapi karena kenaikan pesat ekonomi Tiongkok, AS mulai beralih ke pengaturan bilateral dan sub-regional. Sekarang, dengan mempromosikan kerjasama dalam kelompok untuk memilih anggota APEC, AS bertujuan untuk mempertahankan dominasi di kawasan Asia-Pasifik.

Ini berarti peran utama AS dalam APEC secara signifikan telah melemah, dan negara-negara tuan rumah untuk pertemuan APEC harus memandu forum sesuai dengan yang terbaik dari kemampuan mereka, yang bisa menciptakan ketidakpastian bagi perkembangannya.

Tantangan Masa Depan APEC

Negara-negara APEC harus mencapai konsensus didasarkan pada kerjasama dan pembangunan. Tapi yang lebih penting, anggota APEC harus mendefinisikan dan mencapai konsensus tentang arah kerja sama mereka sehingga menghasilkan hasil positif yang berkelanjutan.

Jika tidak, anggota APEC dapat berakhir terkunci dalam kompetisi, dengan masing-masing berusaha untuk mengarahkan pembangunan regional untuk melayani kepentingan sendiri, yang akan mengakibatkan kekacauan.

Selain itu, kebutuhan mendesak untuk memperjelas fungsi utama APEC sebagai platform untuk integrasi ekonomi regional. Isu pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian utama. Karena ekonomi dunia masih dalam ketidakpastian, apakah kawasan Asia-Pasifik dapat memberikan kontribusi lebih terhadap pertumbuhan ekonomi global tergantung pada upaya bersama dari negara di kawasan ini. Oleh karena itu, APEC harus tetap berkomitmen untuk memperdalam kerjasama regionalnya.

Bagi Indonesia, di tangan pemerintahan baru Joko Widodo. Tantangan sebagai Negara terbesar di kawasan ASEAN dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru di kawasan ditengah krisis dunia yang belum pulih, diharapkan menjadi kunci bagi masa depan Asia Pasifik, tentu semuanya tergantung dari Indonesia untuk bisa membuktikan bahwa negara ini juga patut diperhitungkan dalam kancah global.

 

Ahmad Syaifuddin Zuhri

Mahasiswa Pascasarjana Program China Scholarship Council (CSC) Jurusan Hubungan Internasional, Nanchang University, Tiongkok dan Dewan Pembina Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok 2014-2015

 

Link: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/diplomasi-apec-dari-tiongkok/