Diplomasi Imlek Tiongkok

Oleh: Ahmad Syaifuddin Zuhri

Koran Suara Merdeka, 19 Pebruari 2015

Hiasan serba warna merah dan aktifitas sekeluarga yang sedang menempelkan dua buah kertas vertikal berisi harapan tahun baru  khas Imlek di pintu masuk rumah, dengan latar belakang tempat dan bahasa yang berbeda. Menjadi iklan yang gencar ditampilkan pada minggu jelang Imlek ini di saluran TV milik pemerintah Tiongkok yakni China Center Television (CCTV), termasuk di satu dari 20 saluran CCTV yang khusus untuk siaran global berbahasa Inggris yakni CCTV News.

Imlek atau dalam bahasa Mandarin Chun Jie adalah momentum perayaan tahun baru khas Tiongkok yang populer diseluruh dunia. Bahkan bisa dikatakan menempati posisi kedua setelah perayaan tahun baru masehi.

Tidak mengherankan memang. Dengan besarnya pengaruh Tiongkok saat ini sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS dan didukung oleh sebaran Chinese Overseas atau Tionghoa Perantauan ke seluruh penjuru dunia, menjadikan perayaan budaya ini menjadi sangat penting terutama dalam mengenalkan budaya Tiongkok ke dunia.

Istilah “Tionghoa perantauan” umumnya digunakan untuk merujuk pada sekitar 46 juta etnis Tionghoa yang tinggal di luar Tiongkok, Hong Kong, Taiwan dan Macau. Periode migrasi ini dapat ditelusuri kembali melalui sejarah, fenomena umumnya disebut sebagai “Chinese Diaspora” sejak pertengahan abad ke-19 (Liu & Van Dongen, 2013).

Sementara menurut International Migration Organization (IMO), dari saat ini sekitar 200 juta migran di dunia. Migran Tionghoa berjumlah 39,5 juta dan tersebar di 130 negara. Migrasi Asia, baik domestik maupun internasional, adalah yang terbesar secara global. Tiongkok dan India mencapai 35% dari migran di dunia: lebih dari 70 juta orang. Oleh karena itu, jumlah migrasi internasional sangat tergantung pada dua negara ini (Gómez Díaz, 2012). Termasuk di Indonesia sekitar 2,8 juta orang (2010).

Dengan sebaran Tionghoa Perantauan atau Diaspora Tiongkok, kebudayaan Tiongkok menyebar dengan kuat ke seluruh dunia. Apalagi, didukung dengan modal sejarah panjang peradaban dan warisannya hingga saat ini. Pemerintah Tiongkok menjadikan kebudayaan sebagai pilar utama ketiga diplomasi setelah diplomasi ekonomi dan politik.

Perayaan Imlek hanya sebagai salah satu contoh bagaimana mereka memadukan tradisi dan sebaran Diaspora Tiongkok sebagai alat pengenalan kebudayaan yang cukup efektif. Tidak cukup puas dengan itu, Pemerintah Tiongkok juga secara resmi aktif mengenalkan kebudayaan mereka dengan berbagai strategi seperti melalui olahraga, media, film dan lainnya. Antara lain, menjadi tuan rumah olahraga Internasional seperti Olimpiade Beijing 2008, mendirikan media China Radio International  (CRI) dengan 40 bahasa, saluran TV CCTV internasional, pendirian Confucius Institute di sejumlah Negara dan sebagainya.

Saluran CCTV dan lembaga Confucius Insitute saat ini menjadi salah satu tulang punggung pemerintah Tiongkok dalam mengenalkan wajah dan citra Tiongkok ke seluruh dunia secara massif. Saluran CCTV, di dalam negeri saja sampai mempunyai sekitar 20 saluran. Sementara Untuk global bahasa asing ada CCTV News yang meliputi CCTV Amerika, Afrika, Spanyol, Perancis, Korea, Jerman, Rusia dan Arab. Untuk CCTV Amerika berbasis di Washington, CCTV Afrika di Nairobi sedangkan CCTV lainnya di Beijing dengan 24 jam nonstop siaran.

Confucius Institute atau Institut Konfusius adalah lembaga sejenis Goethe Insititute atau British Council. Lembaga yang namanya merujuk pada filsuf Tiongkok kuno ini ini bertujuan mengenalkan bahasa dan budaya Tiongkok secara resmi ke ratusan Negara di dunia dibawah kordinasi langsung kementrian pendidikan Tiongkok dan menggandeng institusi Negara tujuan seperti perguruan tinggi.

Institut Konfusius atau yang di Indonesia populer disebut dengan Pusat Bahasa Mandarin, beroperasi di dalam perguruan tinggi  dan sekolah menengah di seluruh dunia yang menjadi mitra afiliasinya. Lembaga ini sebagai pusat studi bahasa dan budaya Tiongkok, memfasilitasi orang asing baik guru maupun masyarakat biasa untuk belajar Mandarin, menyediakan guru native speaker Mandarin dan materi pendidikan. Memberikan layanan konsultasi dalam informasi pendidikan, kebudayaan, perekonomian, dan sosial Tiongkok, melakukan ujian bahasa Mandarin (HSK) dan pemberian sertifikasi kualifikasi guru bahasa Mandarin, dan melakukan pengkajian Tiongkok masa kini.

Sejak didirikan pertama kali di Seoul pada 2004 Hingga akhir 2014 lalu, terdapat 475 Institut Konfusius dan 851 Kelas telah didirikan di 126 negara dan wilayah di seluruh dunia dengan 3,45 juta siswa yang terdaftar secara kumulatif. Sementara di Indonesia, saat ini terdapat di 6 kota yakni di Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Malang dan Makassar.

Soft Power

Apa yang dilakukan Tiongkok dalam pendekatan kebudayaan ke Negara lain secara serius dan konsisten tersebut adalah bagian dari Diplomasi Budaya. Menurut Milton C Cummings, diplomasi budaya adalah pertukaran ide, informasi, nilai-nilai, sistem, tradisi, kepercayaan, dan aspek lain dari budaya, untuk memupuk saling pengertian.

Diplomasi Budaya adalah salah satu alat dari Soft Diplomacy atau Diplomasi Lunak. Konsep tersebut dikenalkan oleh Joseph Ney (1990) dari Harvard University. Soft power yaitu kemampuan menarik dan mengkooptasi atau tidak menggunakan kekerasan atau tindakan koersif dalam menghadapi negara lain, Soft power menjadi alat utama diplomasi masa kini yang disebut soft diplomacy dengan pendekatan ekonomi, politik maupun budaya.

Kecenderungan pelaksanaan soft diplomacy dengan menggunakan aplikasi soft power dianggap efektif dan efisien sehingga mudah untuk dilakukan tanpa harus menelan korban dan menghabiskan biaya besar, walaupun pendekatan soft power biasanya memakan waktu yang lama.

Inisiatif Tiongkok dalam menyediakan jendela penting dalam kontribusi di dunia  tidak hanya untuk perspektif relasional diplomasi budaya. Pendekatan budaya yang dilakukan oleh Tiongkok ke negara-negara lain berbeda dengan model pendekatan Barat selama ini ke negara-negara lain dalam membangun relasinya. Tiongkok memadukan kedekatannya dengan negara lain dengan pendekatan sejarah kebudayaan dan ekonomi.

Berlandaskan pada premis bahwa belajar tentang budaya  dan peradaban lain semakin memupuk hubungan relasional yang semakin kuat. Menghargai pentingnya budaya, relasi dan pendekatan komunikasi jejaring dari Tiongkok dalam membangun soft power suatu bangsa  adalah nilai dan pelajaran berharga yang kita bisa ambil dari diplomasi budaya yang diterapkan oleh Tiongkok

Diplomasi Budaya yang di tekankan oleh Tiongkok menjadi kekuatan yang sangat signifikan dari bagian soft power Negara tersebut di tataran dunia saat ini untuk melihat wajah Tiongkok secara ramah dan bersahabat.

Karakteristik budaya inilah yang digunakan oleh Tiongkok dalam menjalin hubungan secara jangka panjang dengan negara lain,  bersifat saling seimbang dan saling menguntungkan. Seperti dalam sejarah panjang peradaban Tiongkok yang masih eksis hingga saat ini, tradisi tahun Baru Imlek atau Chun Jie. Selamat Tahun Baru Imlek, Semoga bahagia dan sejahtera selalu. Zhu Dajia Chun jie Kuaile, Gongxi Fa Cai.

Link: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/diplomasi-lewat-perayaan-imlek/

Ahmad Syaifuddin Zuhri

Alumnus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang,

Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Hubungan Internasional, Nanchang University, Tiongkok.