CITA-CITA YANG TERSIRAT DALAM SURAT KARTINI

Hari ini,21 april kita memperingati hari Kartini. Sejak kita kecil, kita selalu memperingati hari kartini ini dengan beragam acara dan perayaan, seperti memakai baju daerah, lomba memasak, fashion show dengan kebaya, dan tidak lupa untuk mengumandangkan lagu yang berjudul “Ibu Kita Kartini”.

Dengan merayakan hari Kartini setiap tahun nya, pasti setiap kita hafal betul dengan lagu ini. lagu yang di ciptakan oleh WR Supratman ini di dedikasikan kepada Ibu kartini yang di kenal sebagai pahlawan emansipasi wanita. Namun pernahkah terbesit di benak kita, apa kah Ibu kartini hanya sebatas pahlawan emanisipasi wanita saja? Jika kita mengutip lagu “Ibu Kita Kartini ini”, di situ tertulis “…wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia…”

Pernahkah terfikirkan oleh kita, Sudah terwujudkah cita-cita nya bagi bangsa ini? Oleh karena itu, saya ingin mengajak kita semua untuk mengamat sebagian surat-surat Ibu Kartini yang menggambarkan harapan dan cita-cita nya bagi bangsa kita, mari tengok sedikit kebelakang dan menggali lagi sekilas sejarah tentang pahlawan kita ini, karena seperti penulis buku “Panggil Aku Kartini Saja”, Pramoedya Ananta Toer mengatakan,“Keengganan kita berguru pada sejarah telah membuat kita terlempar pada keranjang sampah peradaban.

1. Keadilan Sosial dan Kesetaraan Umat Manusia

Jika selama ini gagasan emansipasi hanya dikaitkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, emansipasi yang digagas Kartini justru lebih tinggi. Ia mengimpikan keadilan sosial dan kesetaraan umat manusia.

Pramoedya A. Toer menggambarkan Kartini sebagai pemula zaman modern Indonesia, terlihat dari caranya dalam memandang masa depan dan punya visi mengenai bangsanya. Kartini menulis,“ Aduhai, bagaimana kami melukiskan rasa haru kami yang mendalam, ketika pertama kali, kami tahu apa yang kami inginkan, ketika cita-cita dalam pandangan kami begitu jelas dan terang. Kami hendak bekerja untuk  bangsa kami, membantu mendidiknya, mengangkatnya ke tingkat derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Begitu bagus dan indah cita-cita yang berkilauan dan bersinar di hadapan kami”. [ Surat Kartini kepada E.H. Zeehandelaar 25 April 1903]

 

2. Menolak Feodalisme

 “Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. “(Suratnya kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)

“Apa gunanya kaum ningrat yang dijunjung tinggi itu bagi rakyat, kalau mereka dipergunakan oleh Pemerintah untuk memerintah rakyat? Sampai sekarang tidak ada, atau sangat sedikit, yang menguntungkan bagi rakyat. Lebih banyak merugikan – kalau kaum ningrat menyalahgunakan kekuasaannya. Ini tidak jarang terjadi. Keadaan demikian itu harus berubah. Kaum ningrat harus pantas untuk bisa dijadikan pujaan rakyat; sehingga akan banyak mafaatnya untuk rakyat. Pemerintah harus membawa kaum ningrat ke arah itu. Dan satu-satunya jalan ialah memberi PENDIDIKAN yang mantap, yang tidak semata-mata didasarkan pada pengembangan intelektuil, melainkan terutama pada pembinaan watak… Banyak sekali contoh yang membuktikan bahwa tingkat kecerdasan otak yang tinggi sama sekali bukan jaminan akan adanya keagungan moral.”

 

3. Emansipasi Wanita

“Stella. Aku tahu jalan yang hendak aku tempuh ini sukar. Banyak duri dan onaknya. Begitu juga banyak lobangnya. Jalan itu berbatu dan berliku-liku… Biarpun aku tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, aku akan mati dengan perasaan bahagia, sebab jalannya telah dirintis. Aku telah ikut membantu untuk membuat jalan yang menuju ke arah wanita bumiputra yang merdeka dan berdiri sendiri…..” [ Surat Kartini kepada Nona Stella Zeehandelaar]

 

 “… andaikata aku jatuh di tengah-tengah perjalananku, aku akan mati bahagia, sebab bagaimanapun jalannya telah terbuka, dan aku telah ikut membantu membuka jalan itu yang menuju kepada kemerdekaan dan kebebasan Wanita Jawa (*baca: wanita Indonesia)” [habislah gelap terbitlah terang – hal 81]

“Lalu akan saya robohkan rintangan-rintangan yang dengan bodoh telah dibangun untuk memisahkan kedua jenis. Saya yakin, kalau ini sudah terlaksana, akan banyak manfaatnya, terutama untuk pria. Saya tidak percaya bahwa pria yang berpendidikan dan mempunyai sopan santun akan sengaja menghindari pergaulan dengan wanita-wanita yang berpendidikan dan berpandangan setaraf dengan mereka…”

 

4. Semangat Juang Memajukan Bangsa

“Memang suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka ayo maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekad, mendapat tiga perempat dari dunia!”

“Pada jaman manapun dan dalam bidang apapun, kaum pelopor selalu mengalami rintangan-rintangan hebat. Itu kami sudah tahu. Tetapi betapa nikmatnya memiliki suatu cita-cita. Suatu panggilan. Katakanlah kami ini orang-orang gila… Atau apa saja… Tetapi kami tidak dapat berbuat lain. Kami tidak berhak untuk tinggal bodoh, bagaikan orang-orang yang tidak berarti. Keningratan membawa kewajiban.” [Kartini, awal 1900]

“… dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu akan ikut menumbuhkan benih yang akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.” [Surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon 15 Juli 1902]

5. Kebanggaan Akan Budaya Dan Seni Indonesia

“Hura! Untuk kesenian dan kerajinan rakyat kami! Hari depannya sudah pasti akan cemerlang. Aku sulit untuk mengatakan betapa girang, terima kasih dan beruntungnya kami di sini.

Kami sangat bangga atas rakyat kami. Mereka yang kurang dikenal dan karena itu juga kurang dihargai. Hari depan kaum seniman Jepara sekarang sudah terjamin. Tuan Zimmerman tak habis-habisnya memuji hasil karya para seniman rakyat berkulit coklat yang sering dihina ini. Para pengrajin kami di sini baru saja mendapat pesanan besar dari Oost en West untuk perayaan hari Sinterklaas.

Kami menikmati anugerah ini. Kini seniman-seniman yang cakap itu dapat menuangkan gagasan-gagasan mereka yang indah. Gagasan yang puitis pun dapat terjelma dalam bentuk-bentuk yang indah, garis-garis yang ramping, mengombak dan melenggok dalam warna-warna cemerlang.” [Surat Kartini kepada E.C. Abendanon, anak dari Mr. J.H. Abendanon]

 

Menghormati Perbedaan Keyakinan Dan Kerukunan Beragama

“Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.” [Surat kepada Ny Abendanon dari Kartini, 14 Desember 1902]

“Duh, Tuhan, kadang aku ingin, hendaknya tiada satu agama di pun di atas dunia ini. Karena agama-agama ini, yang justru harus persatukan semua orang, sepanjang abad-abad telah lewat menjadi biang-keladi peperangan dan perpecahan, dari drama-drama pembunuhan yang paling kejam.”[Kartini, 6 November 1899]

Setelah membaca beberapa kutipan dari surat-surat Ibu Kartini, sekarang tengoklah keadaan bangsa kita dan marilah bertanya kepada diri kita, apakah cita-citanya sudah terpenuhi?

Hari Kartini bukan lah sebatas kebaya dan konde, hari Kartini bukanlah perjuangan emansipasi wanita belaka, hari Kartini bukan hanya untuk para wanita Indonesia, Hari kartini adalah hari dimana kita harus sadar bahwa ini waktunya kita meneruskan cita-cita nya, memperjuangkan kemakmuran bangsa Indonesia.

Mari teruskan perjuangan Ibu kita Kartini.

Salam pelajar Indonesia.

 

Penulis : Grace Fiona Alethea

Di ambil dari berbagai sumber