MEMBANGUN KONTRIBUSI NYATA DAN INTERNALISASI MAKNA KEMERDEKAAN OLEH GENERASI BANGSA DI ERA MODERN

Oleh: Alamsyah Agus (Nanjing University)

(Pemenang 3 Lomba Menulis 72 Tahun Indonesia Merdeka PPIT 2017)

 

Seiring dengan berputarnya roda sang waktu, tanpa terasa kini kita telah berada di Bulan Agustus Tahun 2017, artinya bahwa saat ini genap 72 tahun sudah Bangsa Indonesia memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah rentang usia yang purna jika diposisikan dalam kehidupan manusia dengan segala pengalaman dan dinamikanya. Saat ini kita tidak dihadapkan pada proses perjuangan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah tetapi kita selaku para pelajar dan pemuda diharapkan mampu menginternalisasi esensi kemerdekaan dan mengambil peran dalam melanjutkan tongkat estafet perjuangan para pahlawan bangsa.

 

Esensi Kemerdekaan Hakiki

Kemerdekaan tentu bukanlah ibarat benda yang setelah diraih kemudian disimpan, melainkan bak roda yang harus tetap bergulir untuk menggapai tujuan bernegara yaitu berdaulat baik secara de facto maupun de jure di berbagai bidang, baik bidang politik, ekonomi, pendidikan, budaya, teknologi, hukum, dan sebagainya, ia bukan sekedar lahir dari perjuangan, melainkan lahir dari rasa persatuan dan kesatuan serta rasa senasib-sepenanggungan yang terus digalakkan.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang memiliki pengalaman bersejarah yang dijajah berbagai bangsa mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, hingga Jepang. Sangat berat perjuangan para pahlawan terdahulu dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Semua kemewahan dunia rela mereka korbankan demi kehormatan dan kedaulatan bangsa yang mereka cintai. Dengan bermodalkan semangat dan keyakinan mereka berjuang mengangkat senjata rampasan, pedang, bahkan bambu runcing untuk melawan penjajah demi merebut kemerdekaan untuk keberlangsungan hidup anak-cucu mereka. Tak ada yang mereka takuti, bahkan mereka menganggap kematian sebagai kesucian dari hidup mereka.

Satu hal yang menjadi keyakinan mereka adalah bangsa ini akan menjadi besar ditangan generasi mendatang. Setidaknya ini menjadi spirit yang menggedor jiwa raga kita sebagai anak bangsa, jika nenek moyang kita bisa meraih kemerdekaan, kita yang muda pun sepatutnya siap sedia mengobarkan panji perjuangan mereka. Seberapa kuat dan besarnya ancaman, jika kita bersatu padu menghadapi pastinya ancaman itu akan lenyap.

 

Menjawab Tantangan di Era Modern

Gagasan dan upaya dalam mengarungi perjalanan optimisme masa depan bangsa tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Khususnya di era modernisasi ini dimana setiap ilmu dan teknologi maju begitu pesat, penjajahan tidak lagi berkutik di wilayah konfrontasi persenjataan dan menggunakan kekerasan melainkan sudah diranah yang lebih soft (dunia maya) seperti di jejaring sosial atau media internet lainya.

Para pemuda dijajah dengan beragam euphoria kesenangan yang ditawarkan hingga membentuk perilaku konsumtif dan hedonis yang akhirnya melahirkan sosok pemuda yang semakin terdistorsi dan terpolar dalam ragam kepentingan serta dibuat apatis terhadap lingkungan sosialnya. Para generasi bangsa tidak mampu menunjukkan perannya yang signifikan, miskin karya, miskin gagasan, dan miskin semangat juang serta tenggelam dalam budaya individualis dan matrealistis yang membuat hati begitu miris.

Hal tersebut nampak dalam keseharian mereka terbuai dengan kemajuan teknologi, berkutat di zona nyaman media sosial; Facebook, Twitter, Instagram, Wechat atau yang lainnya semakin membuat generasi muda terbuai dan terlena hingga lupa akan waktunya belajar, bahkan lupa waktunya beribadah. Terbawa akan arus budaya asing hingga lupa akan norma-norma budaya sendiri. Lebih suka membeli produk luar negeri yang terkesan mewah daripada membeli produk dalam negeri. Padahal tanpa mereka sadari banyak sekali barang-barang berkualitas dari Indonesia yang dijual belikan di luar negeri.

Tidak sedikit pula pemuda yang telah digerogoti dan terjerembab dalam dunia narkoba, mengakses video bermuatan pornografi, dan perilaku seks bebas yang menyebabkan pemuda berada pada kondisi titik nadir. Tantangan yang lain dalam kemerdekaan saat ini adalah permasalahan kesenjangan antara kaya dan miskin, pengentasan kemiskinan, penegakan hukum, pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), dan beragam masalah sosial lainnya.

Tentu saja semuanya memiliki andil dalam menghadapi tantangan dan memberantas segala bentuk kejahatan yang dapat merongrong kedaulatan bangsa, bila tidak segera ditangani membuat jiwa para pelajar dan pemuda saat ini “mengkerdil” dan mereka tidak menyadari bahwa kedepan persaingan sumber daya manusia semakin meningkat. Belum lagi dengan adanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dimana terdapat persaingan bebas di wilayah Asia Tenggara.

Masa depan Bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh para generasi muda bangsa ini. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus pelajar, mahasiswa ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya merupakan faktor penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Peranan pemuda khususnya pelajar tentunya masih sangat diperlukan untuk regenerasi dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dari para penjajah yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan terdahulu.

Teringat sebuah ungkapan yang menghentak nurani “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa-jasa pahlawannya”, demikian pula sebuah wejangan flamboyan yang pernah dikatakan Bung Karno “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” atau yang disingkat “Jasmerah”. Ungkapan-ungkapan tersebut mengingatkan kepada masyarakat Indonesia modern untuk selalu mengingat jasa-jasa pahlawan. Dalam hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan Undang-undang Dasar (UUD) 45 dan Pancasila adalah keharusan bagi pemuda untuk mengerti akan peran dan fungsinya dalam melanjutkan proses perjuangan. Karena bagaimanapun sejarah Indonesia tidak lepas dari perjuangan pemuda yang tangguh di masa silam.

Dalam era merebut kemerdekaan, kita bisa melihat betapa gegap-gempitanya rakyat Indonesia ketika Proklamator kita Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan teks proklamasi dan mendeklarasikan kemerdekaan kita. Bahkan sekitar 5.000 pemuda dari seluruh penjuru nusantara dapat berkumpul di Lapangan Ikada, yang kini sudah dirombak menjadi pelataran Taman Monas, hanya untuk melihat sang proklamator sambil ingin mengupayakan suatu fakta, bahwa kita benar-benar sudah merdeka. Padahal, dulu harga diri kita benar-benar sudah dinihilkan oleh kolonialisme hindia belanda dan juga jepang dengan adanya kerja rodi, tanam paksa, kewajiban pajak yang lebih dari kemampuan, dan segala kejahatan kemanusiaan lainnya.

Sepenggal sejarah di atas telah melahirkan mozaik pergulatan para pahlawan bangsa dalam usaha meraih kemerdekaan. Menyitir pendapat orang bijak bahwa Setiap zaman melahirkan cerita untuk masa depan. Pendapat itu seakan menjadi sebuah keharusan bagi setiap pemuda yang tidak sekedar memperingati sejarah masa lalu namun dituntut menciptakan sejarahnya masing-masing dalam tiap-tiap zaman yang mereka lalui.

Lantas bagaimana cara kita  sebagai pemuda untuk manjawab beragam tantangan dan menjadi suksesor bagi para pejuang di era modern saat ini? Untuk menjawabnya, pastikan diawali dengan rasa hormat kita kepada para pahlawan, sebab tanpa mereka, tentunya merasakan negara yang berdaulat ini bagaikan ilusi fatamorgana yang tidak akan pernah kita rasakan. Sulit memang menghargai jasa pahlawan tanpa melihat, namun semua itu dapat dilakukan jika ada usaha untuk “merasa” dengan merasa memiliki, merasa bertanggungjawab, merasa memiliki peran dan berkontribusi.

 

Kontribusi Pemuda Dalam Mengisi Kemerdekaan

Keberlanjutan tongkat estafet perjuangan sangatlah ditentukan oleh para generasi muda bangsa ini. Generasi muda merupakan kumpulan orang-orang yang masih mempunyai semangat juang dan idealisme yang tinggi, keberadaannya diharapkan tidak hanya berani menyuarakan saja tetapi juga berani mengambil tidakan nyata sebagai garda terdepan dalam mewujudkan cita-cita bangsa.

Mengisi kemerdekaan ini bisa dilakukan dengan berbagai kegiatan yang membangun bangsa dan Negara. Bagi seorang pelajar tugas kita sebagai warga masyarakat adalah belajar yang rajin, ulet, tekun, pantang menyerah dan dengan ikhlas demi mencapai cita-citanya. Serta bisa bermanfaat untuk orang lain dan dibanggakan oleh orang tua. Jika pada hari ini ada diantara para pelajar mengalami penurunan nilai atau minim prestasi, berarti sesungguhnya dia belum dikatakan merdeka dan masih terjajah dengan kemalasannya sendiri, sikap yang mesti segera dilakukan adalah bangkit, belajar lebih keras tanpa mengenal putus asa, dan percaya kesuksesan akan diraih di masa akan datang.

Disamping itu, Tidak kalah pentingnya penanaman akhlakul karimah kepada para pemuda dan seyogyanya diberikan sejak dini untuk menjadi pondasi dasar bagi mewujudkan manusia yang berperadapan tinggi dan mampu memfilter budaya-budaya asing yang masuk lewat pintu gerbang globalisasi yang menyebabkan kemunduran cara berpikir, cara pandang, dan cara hidup bangsa Indonesia. Pondasi moral dan ahlak yang luhur itu telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa dalam bentuk Dasar Negara yakni Pancasila. Lima sila dalam Pancasila merupakan penjabaran dari nilai luhur yang ada di masyarakat yang perlu diejawentahkan atau dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai dalam Pancasila tidak sekedar simbol, namun pencerminan peradaban bangsa Indonesia yang luhur dan berbudaya.

Adapun peran dan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan diantaranya dengan cara belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh di sekolah/kampus, ikut berbagai perlombaan di berbagai bidang sesuai keahlian dan bakat, melakukan pengabdian kepada masyarakat,  membuat suatu penelitian atau temuan-temuan baru yang dapat menjawab permasalahan yang ada, dan bagi para pelajar yang mendapat pengalaman berharga dan kesempatan belajar di luar negeri diharapkan setelah menyelesaikan studi di kemudian hari dapat kembali untuk membangun bangsa.

Seperti yang dikutip dalam media online Kompas.com, Presiden Joko Widodo mengajak warga negara Indonesia di luar negeri untuk pulang dan membangun Tanah Air. Jokowi mengatakan “Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan, keterampilan, integritas, dan produktivitas yang tinggi. Hanya dengan itu, Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain. Saya lihat yang hadir di sini semua pintar-pintar. Saya tunggu kepulangannya”. Pesan itu disampaikan Jokowi saat bertemu dengan sekitar 2.500 WNI di Sydney, Australia, Minggu (26/2/2017).

Dengan prestasi yang diraih kelak, hendaknya menjadi manfaat besar bagi bangsanya. Apakah mereka memilih menjadi ahli sains, pakar ilmu sosial, usahawan, atau politikus tidak menjadi soal, yang penting adalah bahwa kegiatan dan prestasi yang dihasilkan adalah langkah demi langkah membuat bangsa ini maju dan sejahtera.

Hal terakhir yang cukup penting untuk mengisi kemerdekaan di era modern ini adalah pemuda membangun konsepsi bersama sebagai ikon perubahan seperti sebuah kalimat indah dari Bung Karno selaku Presiden Pertama Republik Indonesia yang menegaskan betapa pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa dan Negara; “Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia”.

Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Semangat perubahan dalam mengisi kemerdekaan seharusnya mejadi angin segar bagi pemuda untuk mewujudkan bangsa Indonesia pada tataran yang ideal. Apalagi kemerdekaan bangsa ini sudah mencapai usia yang ke- 72 tahun. Tentu banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil. Pemuda harus kembali ke jalannya sebagai jalan perubahan dan melakukan aksi nyata ketimbang berfantasi di dunia maya. Membuka tabir paradigma di zaman ini bahwa bangsa ini rindu akan sentuhan ide dan gagasan brillian para pemuda seperti apa yang dilakukan oleh para pejuang terdahulu.

 Dirgahayu Negeriku. HUT Republik Indonesia ke- 72. Merdeka!^^

 

Copyright.

Dept. Pendidikan dan PO PPI Tiongkok 2017