72 TAHUN, MASIH BISA BERLARI

Oleh: Arini Junaeny (Nanchang University)

(Pemenang 2 Lomba Menulis 72 Tahun Indonesia Merdeka PPIT 2017)

 

Apa yang bisa dilakukan seorang manusia di usia 72 tahunnya? Mungkin Ia adalah seorang kakek atau nenek yang sedang duduk di teras rumah menikmati pagi hingga sore. Beberapa cucu datang menghampirinya, tanpa ditanyapun, di umur 72 tahun bercerita tentang kisah-kisah klasik yang mengagumkan. Atau, jika kita sedang melakukan wisata gunung di Tiongkok tidak mengherankan jika mendapatkan kakek atau nenek yang juga sedang mendaki gunung.

Di suatu pagi saya membaca sebuah tulisan di Kompasiana, tentang seorang Veteran Indonesia, Mbah Noto yang jadi tentara sejak tahun 94. Kisahnya mengingatkan kita bahwa kita sekarang tidak akan pernah tahu berapa darah yang dibayar oleh teman-teman Mbah Noto dulu. Ingatan dan semangatnya terhadap sejarah perjuangan Indonesia masih ada dan terlihat jelas dari baju yang dipakainya, saku baju yang berlambangkan kapas dan padi yang saling melingkar dan ditengahnya terdapat bintang berwarna kuning dan kain bertuliskan “Karya Dharma” dan di bawah lambang bertuliskan “Legiun Veteran Republik Indonesia”. Setidaknya tulisan tersebut dapat dijadikan alarm untuk kita generasi bangsa sebagai pengingat bahwa perjuangan harus diteruskan.

Berbeda zaman tentu berbeda keadaan, sekarang kita tidak harus mengorbankan darah untuk membeli hak merdeka. Sejarah memperlihatkan kita bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan ladang pejuang, begitupun generasinya akan tetap menjadi pejuang untuk mempertahankan tanah air ini. Pertanyaannya, pernahkah kita berjuang? Apa yang kita harus lakukan untuk menjadi pejuang di era ini?  Banyak yang belum menyadari bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari adalah bentuk perjuangan kita. Bangun pagi, anak-anak berangkat sekolah memakai seragam, orang dewasa berpakaian rapi menuju tempat kerja, pak pos berangkat mengantarkan surat, penyapu jalanan sudah di tepi jalan memakai masker, mahasiswa selepas kuliah berhimpun dan berdiskusi, dan sebagainya. Mungkin ada yang berpikir bahwa kegiatan kecil tersebut adalah hal yang bersifat individual. Jarang ada yang melihatnya merupakan sebuah roda, dan ketika roda itu berhenti maka tidak akan ada yang berlari ataupun berjalan. Hari ini adalah buah dari perjuangan sejarah, dan tugas kita menjadikannya terus berbuah. Di negara tercinta ini, mengeluarkan aspirasi saja sudah memberikan sumbangan terhadap Indonesia. Tentu saja, aspirasi yang lebih positif akan memperlihatkan Indonesia yang lebih positif. Kita juga sering mendengar bahwa Indonesia jika dibandingkan negara lain tidak memiliki kemajuan yang pesat, misalnya kecanggihan teknologi yang digunakan masyarakat. Tetapi yang saya pikirkan adalah sisi positif sebuah negara yang tidak memiliki kemajuan pesat, yaitu kesenjangan sosial kurang, kebersamaan yang kuat, nilai tradisi dan budaya yang tidak terkikis oleh teknologi, jalanan kampung-kampung yang hanya kerikil dan berkelok-kelok yang melahirkan keseruan di masa kecil. Inilah sebabnya dahulu kita dipandang sebagai negara yang unik dan beragam, bisa dikatakan kita tidak memiliki ekonomi maju yang dinilai dari harta seperti negara lainnya. Tetapi, di tanah kita ini tumbuh singkong dan jagung, tumbuh kangkung dan bayam, kita bisa menggerakkan roda negara hanya dengan tanah yang kita miliki, kita memiliki air yang melimpah untuk minum, mandi, mengairi sawah, dan laut yang menyediakan ikan dan kita tinggal menangkapnya. Betapa penamaan “Negara Maju” di negeri orang tidak mampu membuat kita iri. Inilah yang selalu kita teriakkan Tanah Airku, Indonesia! Kita berawal hidup dari tanah dan air, bukan mesin pencetak uang, dan kita memiliki kekayaan yang melimpah.

Sadarkah atau tidak bahwa roda yang kita jalankan selama ini, telah menghasilkan kebanggaan-kebanggaan bagi tanah air. Sebuah grafik yang diperlihatkan dalam tulisan Liana Rahmiyati (kompasiana,2013) bahwa jumlah pelajar Indonesia di luar negeri terus meningkat. Terkadang beberapa orang berpikir bahwa mengapa harus belajar di luar negeri, mungkinkah karena tidak mencintai negara sendiri atau pendidikan dalam negeri tidak memadai. Satu lagi pemikiran yang mungkin perlu diubah. Negara Indonesia bisa dibangun dari mana saja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pelajar Indonesia di luar negeri adalah sebuah rejeki bagi bangsa kita. Mereka mampu melihat dunia dan secara tidak langsung memperlihatkan dunia kepada bangsa Indonesia. Pelajar Indonesia di luar negeri sebenarnya juga menjadi duta-duta kecil untuk Indonesia, setiap sikap dan prestasi yang dilakukan akan terhimpun dan menjadi pandangan terhadap karakter Bangsa Indonesia di mata dunia. Mereka bisa belajar banyak hal, dan ketika pulang yang wajib dilakukannya adalah mengamalkan ilmunya bagi bangsa dan negara. Bukankah ini sebuah bahan bakar yang baik untuk menggerakkan roda negara kita.

Roda yang kita jalankan ini juga telah menghasilkan prestasi negara, yang tak asing lagi bagi kita seperti Bapak Prof. B.J. Habibie yang namanya dikenal dunia, bahkan banyak lainnya. Suatu hari dikala saya mengikuti Simposium Internasional Asia-Oceania di Hongkong, saya bertemu dan sempat bercakap dengan seorang ilmuwan Indonesia yang luar biasa. Beliau adalah Bapak Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D. seorang ilmuwan yang berhasil mengembangkan penelitian tentang RADAR, bahkan memiliki laboratorium di Jepang yang bernama Josaphat Microwave Remote Scanning Laboratory. Beliau adalah sosok yang sangat ramah, tatkala dia mengatakan kepadaku “Kalian hebat  yah!, bisa kuliah di luar negeri juga dapat program beasiswa”. Perkataannya membuat kita berpikir, seorang ilmuwan yang sangat hebat dan disegani di mata dunia, dapat berpendapat seperti itu kepada seorang mahasiswa. Pengalaman kecil dan sederhana ini, mengajarkan bahwa dalam setiap hal, baik besar maupun kecil untuk negara adalah hal yang hebat, sepatutnyalah kita menengok hal-hal kecil lainnya, dan bahkan hal yang  mungkin kita anggap kecil tapi ternyata merupakan sumbangan untuk menggerakkan roda pertahanan kemerdekaan.

Seperti yang jadi salah satu buah bibir saat ini adalah penaamaan generasi ‘Millenial’. Dihimpun dari sumber, menurut para peneliti sosial generasi milineal adalah generasi yang lahir pada rentan waktu 1980-an hingga 2000. Dengan kata lain, generasi millenial ini adalah anak-anak muda yang saat ini berusia anatara 15-35 tahun (jurnalcowok.com). Akhir-akhir ini generasi millenial hangat diperbincangkan termasuk masalah moral, etika, budaya, terutama dalam lingkup teknologi. Berbagai pendapatpun bercucuran, banyak yang menilai bahwa generasi millenial dapat membawa kekhawatiran akan timbulnya pengikisan moral, etika, budaya yang menjadi turun-temurun leluhur kita. Generasi millenial memang memiliki karakter yang berbeda, lahir di zaman yang teknologinya sudah berkembang, misalnya TV yang sudah berwarna dan memakai remote, kebutuhan tersier atau mewah kini menjadi kebutuhan sekunder seperti penggunaan ponsel, mobil, dsb.  Kehidupan yang serba mudah itulah yang membawa kekhawatiran bahwa generasi millenial akan kurang atau tidak peduli dengan nilai-nilai moral, etika, budaya, agama, dan juga moral berbangsa dan bernegara.

Lagi dan lagi tentang andil kita dalam kemerdekaan Indonesia, sikap skeptis terhadap generasi millenial sebenarnya tidak perlu menjadi masalah yang besar, karena selama ini masih banyak dari kita yang telah berprestasi dan juga menjunjung nilai-nilai yang disebutkan tadi. Oleh itulah, sterotype dari orang-orang tersebut harusnya menjadikan cambuk api bagi kita untuk membuktikan bahwa generasi Indonesia di zaman apapun itu tidak akan pernah melupakan nilai-nilai baik yang diturunkan leluhur kita. Cara membuktikannya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut, dan bekerja keras menciptakan karya untuk bangsa dan negara. Teknologi yang semakin mudah akan terus membantu kita mewujudkan kreatifitas dan ide-ide cemerlang. Setiap orang memiliki minat dan bakat terhadap sesuatu, mengapa tak memulainya dari itu. Kita bisa menemukan orang-orang hebat di sekitar kita, kalau tidak bisa maka kita yang bisa menjadi orang hebat itu.

Tahukah kita seharusnya kita sangat berbangga menjadi bagian dari Indonesia, dilansir dari data situs Catatan Anak Negeri (2012), Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia 20 % dari suplai seluruh dunia juga produsen timah terbesar kedua, Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian yaitu cengkeh dan pala, Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis yaitu sekitar 80 % di pasar dunia, terumbu karang Indonesia adalah yang terkaya yatu 18 % dari seluruh dunia, memiliki spesies ikan hiu terbanyak di dunia yaitu 150 spesies, memiliki hutan bakau terbesar di dunia, bahkan binatang purba masih hidup berada di Indonesia, dan banyak lainnya. Untuk bersikap pesimis bukanlah hal yang pantas kita lakukan jika melihat apa yang kita miliki.

Di perjalanan 72 tahun ini, negara kita memang mendapatkan banyak goncangan. Perkembangan zaman bahkan hampir membuat sebagian orang terengah dan hampir melupakan jati diri. Tak bisa dipungkiri, bahwa Negara Indonesia yang unik dan beragam juga mengikuti perkembangan teknologi yang memilki efek samping. Yang patut disyukuri adalah masih banyak dari kita warga Indonesia yang mampu menyaring atau menggunakan perkembangan itu dengan bijak, tanpa menghilangkan kearifan lokal, kebersamaan, peduli sosial, nilai-nilai luhur, dan lainnya. Dan memang, segala sesuatunya itu seperti sebuah koin, yang memiliki dua sisi,  jika salah satu sisinya tidak ada maka itu bukan koin. Baik ataupun buruknya negara ini tergantung kita yang menyikapinya, yang kita harus lakukan adalah selalu positif, bekerja keras,  dan hindari provokasi yang telah banyak terjadi. Bukankah Tanah dan Air adalah komponen yang berbeda, tetapi diatasnya ada roda kehidupan, itulah Tanah Air, Indonesia.

Ingatkah kita dengan mata pelajaran  kewarganegaraan atau yang dulu disebut PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), sewaktu anak-anak  kita belajar budi pekerti di mata pelajaran itu. Gotong royong, Musyawarah, Keadilan, dan sebagainya, yang dari arti katanya kita hafal hingga yang selalu berusaha kita amalkan sehari-hari. Masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)  pelajarannya lebih kepada sistem dan bentuk pemerintahan, kita mulai mempelajari struktur sebuah negara, berlanjut di jenjang  Sekolah Menengah  Atas (SMA) pelajaran sudah semakin lengkap terhadap ilmu kenegaraan dan kewarganegaraan, menghafal pasal-pasal, dan pengertian istilah-istilah, di dalam kelas mencoba bertukar pikiran dengan teman dan guru. Masuk perguruan tinggi, Kewarganegaraan pun menjadi Mata Kuliah Umum yang wajib. Segala sesuatunya menjadi lengkap, tak hanya menghafalkan atau belajar teori, tapi disitu kita diskusi, berdebat, dan mengkritik segala sesuatu yang ada di sistem, dan betapa berbahagia jika bisa menciptakan ide dan solusi.

Waktu anak-anak ketika belajar, kita begitu semangat dan gembira, kalimat sederhana di buku bisa memberikan contoh yang baik bagi kita, misalnya buku tertuliskan “Budi membantu Ibu di Pasar” atau “Walau hujan aku tetap pergi ke sekolah”, waktu kecil betapa bahagianya kita jika bisa menerapkan hal-hal yang kita pelajari di sekolah, mungkin kita masih bisa mengulanginya sekarang, mengamalkan segala yang baik yang telah kita pelajari. Ini memperlihatkan benang merah antara pendidikan, warga negara, dan bangsanya, serta mampu menghubungkan segala aspek yang ada di dalam sebuah negara. Mata pelajaran tersebut hanya satu contoh sebuah proses. Dengan Proses tersebut, kita sadar atau tidak akan terus berpengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Di usia 72 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, Indonesia masih menjadi Tanah Air bagi kita semua, kita tidak boleh melupakan darah yang telah dibayar untuk buah yang kita nikmati saat ini, kita tidak boleh terguncang oleh hal buruk yang menimpa bangsa kita ini, selalu optimis dan positif menjalankan roda kehidupan bangsa dan negara kita ini, tetap semangat dan menjadi pejuang kecil yang berkarya untuk Tanah Air. Jika diibaratkan seorang manusia, Indonesia sudah merasakan gendongan sebelum bisa merangkak, kemudian belajar berjalan sampai bisa berjalan dan memakai sepatu sendiri, merasakan berlari meskipun diatas rumput berduri tanpa alas kaki, dan di usia 72 tahun ini, Indonesia masih bisa berlari!

 

Tanah ini milik Indonesia

Warga asing boleh bertamu

Tapi tidak untuk memiliki

Tanah ini milik Indonesia

Siapapun boleh berdiri diatasnya

Tapi tidak untuk diinjak-injak

Tanah ini milik Indonesia

Dimanapun boleh tidur diatasnya

Tapi tidak untuk membangun kepentingan pribadi diatasnya

 

Air ini milik Indonesia

Dimana-mana bisa didapatkan

Tapi bukan untuk dicemari

Air ini milik Indonesia

Siapa saja boleh meminumnya

Tapi tidak untuk dibawa pulang investor asing

 

Tanah Air Indonesia milik Kita, siapa lagi yang bisa menjaganya kalau bukan kita.

 

Copyright.

Dept. Pendidikan dan PO PPI Tiongkok 2017