CARA PELAJAR TIONGKOK ISI KEMERDEKAAN INDONESIA YANG KE-72

Oleh: Nanang Zulkarnaen (Nanjing Normal University)

(Pemenang 1 Lomba Menulis 72 Tahun Indonesia Merdeka PPIT 2017)

 

17 Agustus 1945 adalah hari dimana para pendiri Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan setelah Jepang menginvasi negeri dan sebelumnya Belanda, Inggris, Francis, Spanyol dan Portugis menjajah tanah air untuk sekian lama. Memperjuangkan kemerdekaan tentu bukan sekedar retorika. Para pahlawan yang gugur, rela kehilangan harta bahkan nyawa lalu mewariskan keindahan alam Indonesia yang bebas intervensi negara luar bagi banyak generasi, pasca proklamasi diperdengarkan ke segala penjuru tanah air. Terhadap jasa pendiri bangsa dan pahlawan yang telah gugur memerdekakan bangsa, sebagai generasi penerus sudah barang tentu kita harus menghormati dan menghargai keringat dan darah yang telah mereka kucurkan. Bukan hanya dengan retorika tapi karya nyata. Dengannya kita, generasi kini, berkontribusi untuk meneruskan cita-cita para pendahulu sekaligus turut mewarnai cerita Indonesia bagi generasi yang akan datang.

Bagaimana dan apa yang bisa diperbuat pelajar Indonesia di Tiongkok dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia yang sudah ke 72 tahun?, adalah pertanyaan yang menarik untuk dimaknai. Hal ini karena para pelajar di Tiongkok memiliki kedudukan sangat penting dan strategis dalam menjaga keberlangsungan Negara Indonesia dan menyokong keharmonisan seluruh warga yang tinggal di dalamnya. Terlebih jika menilik pasang surut sejarah perjalanan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki beragam etnis warga negara yang dengan sedikit kesalahpahaman saja keberagamannya itu acapkali mencipta diharmonisasi.

Mencari Sebab dan Alasan

Pada saat melakukan perjalanan pulang ke Indonesia untuk liburan musim panas tanggal  18 Juli 2017, dalam pesawat Xiamen Air penulis berkenalan dengan dengan Prof. Biao Huang, seorang dosen sekaligus Direktur Departemen Teknik Kimia Fujian Agriculture and Forestry University. Sejak pesawat mengudara dari Bandara Pukou Nanjing hingga transit di Bandara Fuzhou, Prof. Biao Huang banyak bercerita termasuk tentang pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan di Kyoto University. Namun, satu dari sekian ceritanya yang paling menarik perhatian adalah saat beliau memperlihatkan ponselnya untuk mengkonfirmasi kerusuhan Mei 1998 dan memperlihatkan Film The Act of Killing besutan Joshua Lincoln Oppenheimer, pria kelahiran 23 September 1974 di Texas Amerika Serikat (Wikipedia). Film tersebut mengisahkan tragedi pembantaian keluarga yang dituduh PKI tahun 1965 di Indonesia.  Dua contoh kejadian rusuh di Indonesia ini menjadi puncak dari bukti disharmonisasi antar warga yang kerap muncul dan menyeret Warga Negara Indonesia (WNI) etnis Tionghoa pada pusaran kejadian dan melebarkan asumsi yang kurang baik pada hubungan Republik Indonesia (RI)- Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Penulis tidak bisa berkomentar banyak, tapi lebih berkontemplasi karena melalui perkenalan itu ada pesan yang didapat, bahwa perjalanan Indonesia akan menyejarah dan ceritanya bisa dikonsumsi banyak orang dari beragam latar belakang di seluruh dunia. Dan tentunya mengundang beragam kesan bagi orang yang mengonsumsinya selaras dengan sudut pandangnya yang bersumber dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing si pemberi kesan.

Paragraf di atas memberi gambaran sederhana atas realita yang telah dihadapi, kisahnya mungkin saja berulang dengan intensitas yang berbeda. Walaupun terkait intoleransi sejak 2001 sampai 2016, seperti diberitakan  harian BBC edisi tanggal 30 Desember 2016,  peneliti politik Lembaga Survei Indonesia Saiful Mujani mengatakan bahwa sentimen kebencian terhadap etnik Cina di Indonesia tergolong sangat kecil, yaitu antara 0,8 sampai 1,5%.  Sementara itu, Isu hubungan RI – RRT tetap menjadi perhatian seperti tertuang dalam dokumen keputusan Kepala Perwakilan RI No: SK 00017/KJRI-Shanghai/V/2015/01 tanggal 18 Mei 2015 tentang Rencana Strategis (Renstra) Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Shanghai Tahun 2015-2019. Analisis SWOT dalam dokumen Renstra tersebut, menyebut: ” adanya masa kurang baik hubungan antara RI dan RRT yang masih membekas dalam sejarah hubungan kedua negara”, sebagai salah satu ancaman (Threat).

Dinamika di atas harus disadari dan dipahami oleh para Pelajar Indonesia di Tiongkok. Pemahaman yang baik akan menjadi landasan kuat bagi gerak langkah para pelajar selama menempuh dan pasca melakukan pendidikan di Tiongkok. Penting bagi pelajar untuk bisa saling menjaga dan mengupayakan ketenangan dan kenyamanan hidup berbangsa dan berkontribusi positif dalam jalinan hubungan bilateral dua negara: RI dan RRT. Dalam konteks mengisi kemerdekaan Indonesia, point ini merupakan kunci pokok karena tugas generasi sekarang –termasuk di dalamnya pelajar– adalah bagaimana memelihara negara yang sudah merdeka, bagaimana mempertahankan keadaan yang sudah aman buah dari perjuangan panjang para pahlawan. Pertanyaannya adalah dengan cara apa pelajar Indonesia di Tiongkok mengupayakan ketenangan berbangsa dan berkontribusi positif dalam hubungan bilateral kedua negara sebagai perwujudan mengisi kemerdekaan Indonesia? Menengarai pertanyaan penting ini, penulis ingin mengurai dua upaya pokok yang dapat ditempuh, pertama memperkuat peran Individu pelajar dan kedua memperkuat peran organisasi pelajar.

Menyoal Peran Individu

Setiap individu pelajar yang datang ke Tiongkok memiliki tugas mulia untuk mencari ilmu, sehingga sisi akademis pelajar mestinya mendapat perhatian yang serius. Manifestasi penguasaan keilmuan selama pendidikan biasa dicirikan dengan indeks prestasi. Mencapai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi acapkali menjadi syarat pertama ketika akan  berkiprah lebih lanjut pasca kuliah. Misalnya, pada saat melamar pekerjaan seseorang bisa gugur diawal manakala IPK yang dimilikinya di bawah persyaratan yang dikehendaki perusahaan. Oleh karena itu jika ingin siap bersaing maka pengejaran sisi akademis tidak boleh dipandang remeh dan sejatinya dapat menjadi bukti kongkrit dalam berkontribusi mengisi kemerdekaan Indonesia, karena dengan cara inilah pelajar harus mempertanggungjawabkan perannya.

Jenjang sarjana yang dikuti pelajar selama di Tiongkok adalah sarana untuk memupuk kapasitas individu seperti kedewasaan dan kematangan emosi. Jenjang ini juga menjadi ajang yang sangat baik dalam membuka cakrawala berfikir yang dengannya dapat memapah masing-masing individu untuk lebih peka situasi, mau menghargai perbedaan dan tidak ”kaca mata kuda” dalam menyelesaikan persoalan. Kombinasi sisi emosional dan intelegensi serta sisi spiritual menjadi tantangan para pelajar untuk mencapainya secara seimbang. Setiap ada kesempatan, pada saat bersamaan menjadi pembelajar yang dapat membantu menjadi perekat bagi terjadinya keadaan yang damai  terutama pada saat relasi etnis Tionghoa di Indonesia ataupun hubungan RI-RRT dalam masa krisis.

Menyoal Peran Organisasi Pelajar

Organisasi pelajar di Tiongkok hemat penulis memegang peranan yang sangat sentral. Betapa tidak, sebagai sebuah organisasi, disamping memiliki legitimasi dipastikan juga disertai perangkat pendukung untuk dapat mencapai tujuan organisasi sebagai bentuk pengejawantahan setiap misi yang telah diformulasi. Dengannya visi organisasi diterjemahkan dan direalisasikan. Demikian manfaat penting organisasi, sampai ada pepatah mengatakan kebaikan yang tercerai berai akan dikalahkan dengan kejahatan yang terorganisasi.

Peran organisasi pelajar di Tiongkok sangat terasa manfaatnya manakala dapat menguatkan peran individu dan komunitas lainnya sekaligus, sehingga dapat mendorong upaya rekonsiliasi terhadap kemungkinan yang terjadi atas munculnya masa genting relasi etnis Tionghoa di Indonesia ataupun renggangnya hubungan RI-RRT. Organisasi pelajar di Tiongkok dapat meningkat perannya melalui cara memperkuat kolaborasi dengan mengurangi kompetisi. Sehingga ia menjadi ajang yang sangat berharga bagi para individu pelajar dan komunitas untuk dapat berlatih memproduksi ide dan masukan berharga yang elegan, berbobot, menyatukan, dan menguatkan keadaan Indonesia, karena keterampilan “bersuara” yang terstruktur dan sistematis dalam berorganisasi adalah keniscayaan.

Tentang betapa penting dan besarnya peran organisasi pelajar, penulis teringat akan obrolan dalam suatu grup wechat “ PCI. Muhammadiyah Tiongkok 2016”. Melalui grup ini saya menulis akan pentingnya dialog sesama pelajar di Tiongkok dengan menggelar mimbar akademik untuk semakin memahami posisi semua warga Negara Indonesia termasuk etnis Tionghoa dalam berbangsa, dalam berekonomi dan berpolitik. Pelajar Indonesia di Tiongkok dari semua etnis harus memiliki kesempatan yang sama tanpa kecuali sehingga kemungkinan adanya diskriminasi terhadap etnis manapun dapat diminimalisir. Contoh kecil yang acapkali ditemui misalnya diskriminasi terhadap etnis tententu pada saat akan memasuki dunia kerja. Ini hanya hal kecil yang boleh jadi berdampak pada lulusan tiongkok pada saat akan bekerja, di luar itu ada soal lain yang lebih berat menyangkut hidup bernegara yang acapkali menuai konflik. Pembahasan soal ini dalam mimbar akademik penulis kira tidak terlalu salah. Dengannya justru pelajar sebagai generasi muda yang langsung merasakan dunia pendidikan di Tiongkok, tahu secara persis peta tentang ini. Untuk mereduksi kekurangpahaman para pihak, maka dialog yang digelar akan sangat terorganisir dengan baik jika dapat diinisiasi sekaligus difasilitasi oleh organisasi pelajar. Semoga dialog yang sering dilakukan dapat merumuskan jalan yang paling baik untuk ditempuh oleh semua pihak dalam bingkai bernegara.

Semangat kolaborasi dapat menjadi kunci bagi terbukanya jalan dialog. Sementara itu memperbanyak dialog dapat membantu mengikis kesalahpahaman.  Karenanya dialog yang dilandasi dengan semangat kebersamaan penting ditempuh dan diupayakan organisasi pelajar sebagai upaya untuk membuktikan bahwa fungsi dan peran ini tidak dapat tergantikan oleh yang lain. Organisasi pelajar harus di depan. Melandasi peran ini, penulis ingin menyampaikan analysis pakar pemodelan system dynamic bernama Teten Avianto, yang berjudul Model mental. Alumni ITB ini menulis bahwa:

ketika kita menilai seseorang (Mr. X) siapapun kita baik yang pro maupun kontra terhadap dia. Sesungguhnya kita hanya mendapat sebagian informasi saja tentang dia dan informasi itu bercampur dengan asumsi kita masing-masing. Asumsi yang pro dan kontra tentu saja berbeda, maka kesimpulannya akan berbeda. Kesimpulan dari yang pro dan yang kontra, keduanya akan berbeda dengan kenyataannya. Tidak ada penilaian kita yang mutlak benar karena sesungguhnya kita sedang menilai  abstraksi (model) tentang dia yang ada di benak kita yaitu model mental. Dengan membuka diri bahwa ada kemungkinan asumsi kita yang salah atau selain saling bertukar informasi juga sekali sekali saling bertukar asumsi maka penilaian kita akan lebih objektif , komprehensif dan mendekati kenyataan sehingga kita bisa mengurangi konflik karena salah pengertian di antara kita.

Dalam membicarakan tentang seseorang (Mr. X) seperti juga membicarakan tentang sesuatu –semisal krisis suatu hubungan antar etnis— penting bahwa seiring dengan dialog yang ditempuh mutlak perlu dilakukan pengkayaan pengetahuan sehingga perspektif dalam memandang persoalan lebih dalam dan mendasar.

Penutup

Sebagai kesimpulan, peran pelajar secara individu dan keorganisasian dapat menjadi upaya untuk mendorong harmonisasi dalam mengisi kemerdekaan Indonesia diusianya yang sudah mencapai 72 tahun. Kapasitas individu yang terus diasah dan inisiasi organisasi pelajar yang terus di dialogkan sangat penting guna meningkatkan kontribusi dalam merawat hasil kemerdekaan, mengurangi kemungkinan ketegangan yang muncul antar pihak dan membantu program pembangunan yang dijalankan pemerintah Indonesia kini dan yang akan datang. Semoga.[]

19 Agustus 2017.

 

Copyright.

Dept. Pendidikan dan PO PPI Tiongkok 2017