FDI China dan Peran Masyarakat dalam Pembangunan Lokal

21 July 2018

FDI CHINA DAN PERAN MASYARAKAT

DALAM PEMBANGUNAN LOKAL

Oleh: Sugiarto Pramono[1]

            The Rise of China atau kebangkitan China kendati telah dirasakan lama oleh masyarakat global namun masih terkesan mengagetkan. Gerakan anti-China yang bermunculan di banyak belahan dunia menunjukkan belum siapnya sebagian masyarakat dunia dengan perubahan yang sedang terjadi. Tulisan mini ini bermaksud menjelaskan fenomena the Rise of China dan usulan strategi untuk merespon fenomena tersebut khususnya untuk mendorong pembangunan lokal.

Sedikitnya ada dua faktor yang menjamin kebangkitan China. Pertama faktor di tingkat domestik. China merupakan negara dengan populasi terbesar di dunia, penduduknya mencapai lebih dari 1.3 milyar jiwa. Memiliki culture dagang yang mengakar kuat, dan kebijakan Pemerintah yang men suport aktivitas perekonomian tersebut. Kreativitas dalam aneka aktivitas perekonomian membuat produktivitas China melesat sehingga sedikitnya dua kebutuhan dasar harus dipenuhi, yaitu kebutuhan terhadap pasar untuk menyerap beragam hasil produksi dan kebutuhan terhadap energi sebagai penggerak proses produksi. Dua kebutuhan inilah yang mendorong Pemerintah China untuk membangun akses menuju sumber energi dan pasar. Salah satu kebijakan kunci untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah Belt and Road Initiative (BRI) yang dideklarasikan pada 2013.

Kedua, di tingkat global, perilaku China menarik untuk diamati, terutama upaya saling merapatkan diri dengan Rusia. Kendati kedua negara tersebut memiliki kesamaan ideologi, yaitu Komunisme, namun dalam bentang sejarah terutama di era perang dingin, hubungan kedua great power tidak selalu harmonis. Dalam periode perang dingin China dan Uni Soviet (sebelum hancur dan salah satu pecahan terbesar negaranya menjadi Rusia) terjebak dalam konflik perbatasan yang sangat pelik. Konflik perbatasan telah terjadi antara kedua negara dan memuncak pada Maret 1969 di Pulau Zhenbao (珍宝岛) di Sungai Ussuri, yang juga dikenal sebagai Pulau Damanskii (Остров Даманский) dalam bahasa Rusia. Hubungan tidak harmonis tersebut terus berlangsung hingga runtuhnya Uni Soviet, sementara Zhenbao dikuasai oleh China (Wikipedia: Konflik perbatasan Tiongkok-Soviet).

Menariknya pasca perang dingin kedua negara memiliki hubungan yang sangat harmonis, mengapa? Logika the enemy of enemy is friend dapat menjelaskan hubungan intim kedua great power. Baik China maupun Rusia terancam oleh politik pengepungan AS (Olga Daksueva and Serafettin Yilmaz, 2014, 61). Di sisi timur AS mendorong kebijakan Pivot (2011), sementara di sisi barat AS, melalui aliansi keamanan NATO, berekspansi ke negara-negara Eropa Timur pecahan Uni Soviet. Pada bulan Maret 1999, tiga negara Eropa Timur bergabung ke dalam NATO, yaitu Polandia, Ceko dan Hongaria (Carles Nopriandi, 2017, 793). Terhadap perilaku AS tersebut baik Rusia maupun China merasa terancam sehingga pilihan rasional bagi mereka adalah mengakhiri persengketaan dan merapatkan hubungan satusama lain guna menangkis ekspansi AS baik dari barat maupun timur. Bersatupadunya China dan Rusia menjadi kekuatan politik (selain ekonomi) global yang cukup kuat untuk mengimbangi AS. Kedua faktor tersebut cukup untuk menjamin munculnya fenomena the rise of China.

Kebangkitan China tak dapat disangkal dibarengi dengan distribusi investasi ke segala penjuru dunia, di mana salah satu sasarannya adalah Indonesia. Dengan posisi geografis yang strategis, sumber daya alam melimpah dan populasi terbesar keempat dunia, Indonesia menarik minat China untuk berinvestasi. Tak hanya investasi, arus perdagangan China-Indonesia juga meningkat. Singkatnya China masuk ke dalam 10 besar sumber investasi Indonesia (UNCTAD Press Release, 2014). Tahun 2016, FDI di Indonesia menyentuh angka US$ 28.8 milyar (Rp 389.3 triliun), dengan kecenderungan meningkat dalam 10 tahun terakhir. Proyek dari investasi tersebut menyentuh angka 25.3 ribu unit, atau meningkat 42.8% dari tahun 2015 (yaitu 17.738 unit). China (dengan nilai FDI sebesar US$ 2.67 miliar atau 1.734 proyek) masuk ke dalam 5 besar sumber FDI Indonesia dalam Periode Januari-Desember 2016, di sisi lain, Amerika dalam periode yang sama jatuh diurutan ke-6 dengan dengan nilai FDI sekitar 1.2 milyar (Kata Data, 26 Januari 2017). Kabar buruknya kegagapan Indonesia dalam menyambut kebangkitan China berpotensi memposisikan Indonesia dalam subordinasi kepentingan China namun tetap ada kabar baik, kebangkitan China menular ke Indonesia.

Strategi Global Value Chain untuk mendorong partisipasi Masyarakat Lokal

Globalisasi membuka ruang partisipasi yang luas tidak hanya untuk aktor internasional berupa pemerintahan negara-negara di dunia namun juga untuk para pelaku non-pemerintah (non-state actors) dalam melakukan aktivitas hubungan lintas batas negara. Beragam aktor non-pemerintah seperti aneka Multi National Corporation (MNC), bermacam Kelompok Kepentingan (interest group) bahkan hingga Masyarakat Lokal (local community) di banyak pelosok di seantero bumi memiliki akses yang lebih mudah dan murah tidak hanya untuk berkomunikasi namun juga melakukan perjalanan. Dalam setting globalisasi, para pelaku global tersebut dapat turut mengambil manfaat dari peristiwa the rise of China, salah satunya adalah dengan strategi Value Added (menambah nilai).

Masyarakat Lokal barangkali merupakan salah satu entitas yang sering dirugikan dalam konteks investasi asing. Aktivitas investasi terutama oleh perusahaan multi nasional lazimnya menguras sumber daya alam, meracuni lingkungan hidup dengan limbah industri, bahkan merusak kearifan lokal. Mengapa kelaziman tersebut terjadi? Salah satu faktor pentingnya adalah pasifnya masyarakat lokal. Masyarakat Lokal dalam Rantai Nilai Global (Global Value Chain/ GVC) lazim ditempatkan di setidaknya dua peran, yaitu buruh murah dan konsumen utama (Sugiarto Pramono, 2017). Dua peran Masyarakat Lokal dalam konteks GVC tersebut memposisikan Masyarkat Lokal sebagai pihak yang kurang beruntung. Lantas apa yang dapat dilakukan Masyarakat Lokal untuk meningkatkan perannya sehingga tidak selalu mengisi dua fungsi tersebut, namun harapannya bisa menjadi pemain utama perekonomian di daerahnya. Tulisan ini menawarkan strategi yang disebut Value Added.

Aktivitas ekonomi yang berupa produksi, distribusi dan konsumsi sejatinya disusun oleh Rantai Nilai (Value Chain) yang kait-terkait menghubungkan beragam kegiatan ekonomi. Analisa Rantai Nilai (Value Chain Analysis) sangat penting karena bertujuan untuk mengidentifikasi di mana keunggulan biaya rendah atau kelemahan terjadi di sepanjang Rantai Nilai dari bahan mentah hingga aktivitas pelayanan pelanggan (Friska S, 2010, 37). Nilai dalam hal ini, dimaknai sebagai selisih yang dihasilkan dari aktivitas untuk menambah nilai. Konsep Value Added menuntun untuk menemukan nilai tambah yang mulai diciptakan saat pembelian bahanbaku sampai produk jadi (Friska S, 2010, 41). Proses Penambahan Nilai (Value Added) dalam aktivitas ekonomi terjadi di berbagai level (global, nasional maupun lokal) dan sektor industri bahkan lini industri yang bercabang-cabang dan kait terkait sehingga membentuk rangkaian nilai yang luas melintasi batas-batas negara. Penting bagi pelaku ekonomi untuk mengetahui posisinya dalam Rantai Nilai Global sehingga dapat menyusun strategi untuk meningkatkan peran dalam proses Penambahan Nilai tersebut. Dalam kontek Ekonomi-Politik sejatinya aktivitas ekonomi merupakan upaya saling tarik menarik Rantai Nilai beragam aktor. Aktor mana yang paling banyak meningkatkan nilai maka mereka yang paling banyak mendapat keuntungan.

Untuk memahami dua konsep kunci dalam tulisan kecil ini (Value Chain dan Value Added) secara lebih mudah barangkali bisa diilustrasikan sebagai berikut. Sebuah komoditas berupa baju batik misalnya, yang dipakai oleh seseorang, telah mengalami proses Penambahan Nilai yang sangat panjang dari yang sebelumnya berupa kapas yang berada di tangan para petani kapas hingga pada akhirnya berubah bentuk menjadi baju batik yang dipakai oleh konsumen. Kapas merupakan hasil produksi pertanian yang melibatkan banyak orang, dari pemilik kebun, para manajer di sektor pertanian hingga karyawan di berbagai jenis pekerjaan. Dari proses panjang penanaman kapas hingga diunduh menjadi kapas jadi, merupakan proses Penambahan Nilai. Kapas kemudian ditingkatkan lagi nilainya menjadi benang melalui aneka proses lanjutan seperti penggilingan (yakni memisahkan kapas dari bijinya), musoni (yakni mengurai kapas yang sudah digiling hingga digulung), ngantih (yaitu memintal benang yang dihasilkan dari gulungan kapas), nglikasi (menggulung benang) hingga menenun (yakni menganyam benang menjadi kain). Selanjutnya kain memasuki proses pembatikan. Setelah menjadi kain batik, baru memasuki tahap selanjutnya yaitu dibuat menjadi baju melalui proses desain, penjahitan hingga finishing. Kemudian memasuki toko pakaian untuk dijual.

Demikian tahap demi tahap Penambahan Nilai dari kapas hingga baju batik. Semakin panjang rantai Penambahan Nilai biasanya semakin banyak pula melibatkan orang, yang artinya semakin luas jangkauan orang-orang yang mendapat manfaat nilai lebih. Mulai dari para pengusaha kapas, para petani, para distributor, pengusaha batik, para pengrajin batik, pengusaha konfeksi, para pedagang batik dan lain sebagainya. Pada setiap tahap Penambahan Nilai lazim sekali berkaitan dengan aktivitas ekonomi lain yang artinya terkait dengan Value Chain di sektor lain, misalnya jasa distribusi, perusahaan penyedia tenaga kerja, perusahaan iklan dan lain sebagainya. Kait terkait antara beragam proses Value Added di satu sektor industri dengan Value Added di sektor-sektor industri lain membentuk bangunan Rantai Nilai (Value Chain). Dalam sekala yang lebih luas lagi membentuk Rantai Nilai Global atau Global Value Chain.

Hal serupa yang lebih kompleks terjadi pada komoditas lain seperti otomotif, furniture, kuliner, pariwisata, pendidikan serta masih banyak lainnya. Rantai nilai tersusun dan melibatkan seluas mungkin sumber daya manusia di setiap proses penambahannya. Dalam konteks investasi asing misalnya para investor asing di suatu daerah membangun Rantai Nilai, sehingga mengangkat taraf ekonomi lokal. Persoalan yang muncul adalah sebarapa aktif Masyarakat Lokal berpartisipasi dalam proses Penambahan Nilai tersebut. Biasanya terkait dengan sejarah, kebijakan, budaya, posisi geografis, potensi alam dan aneka faktor lain sehingga upaya untuk melakukan analisa sangat penting dilakukan. Dalam seting investasi asing dari China yang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, maka upaya merespon dengan cerdas penting dilakukan. Analisa GVC bisa sangat membantu Masyarakat Lokal untuk mengetahui peta Penambahan Nilai sehingga Masyarakat Lokal mengetahui posisinya dalam kontruksi Rantai Nilai dan mampu berpartisipasi dalam upaya Penambahan Nilai yang pada akhirnya dapat medorong perekonomian lokal.

Tulisan ini diharapkan menjadi “pintu masuk” bagi riset-riset sepesifik GVC dalam kerangka besar meningkatkan peran Masyarakat Lokal untuk berpartisipasi aktif merespon arus investasi China yang meningkat. Keterlibatan Masyarakat Lokal tidak hanya mendorong perolehan “kue” pembangunan bagi Masyarakat Lokal yang pada akhirnya bermakna pemerataan, namun juga meningkatkan posisi mereka dalam Rantai Nilai Global. Tentu peran pelaku lain bukan tidak penting. Pemerintah, para pelaku bisnis, investor, Perguruan Tinggi, beragam Kelompok Kepentingan diharapkan mengambil bagian dalam upaya mendorong Value Added di tingkat lokal.

 

ILUSTRASI PERAN PARA AKTOR/ PELAKU DALAM MECIPTAKAN DAN MENDORONG

PROSES VALUE ADDED FDI DI TINGKAT LOKAL

 

No Aktor/ pelaku Peran dalam Penambahan Nilai Catatan
1 Masyarakat lokal Berpatisipasi aktif dalam upaya memenuhi kebutuhan investor sehingga tidak perlu mengimport baik jasa, sparepart atau bahkan bahan mentah dari tempat lain. Cara ini memungkinkan Penambahan Nilai terjadi di level lokal sehingga menumbuhkan kemakmuran lokal. SDM Masyarakat Lokal sangat penting, sehingga usaha-usaha untuk meningkatkan perlu dilakuakan terus-menerus. Peran ini bisa dilakukan oleh Perguruan Tinggi, Kelompok Kepentingan yang memiliki konsentrasi terkait maupun Pemerintah.
2 Pemerintah Regulator, fasilitator, konseptor (bersama dengan stakeholder lain), pembuat kebijakan. Penting bagi Pemerintah melakukan riset secara intensif (bisa bekerjasama dengan berbagai lembaga riset, termasuk Perguruan Tinggi, investor, lembaga donor, Kelompok Kepentingan maupun aktor lain), memetakan potensi dan mengkontruksi kesalingterhubungan Rantai Nilai di tingkat lokal, nasional dan global.
3 Investor Melakukan investasi, bersama dengan stakeholder lain merumuskan startegi terbaik untuk kepentingan bisnis jangka panjang. Investor yang mengabaikan peran stakeholder lain sulit menjaga kesinambungan bisnisnya.
4 Perguruan Tinggi Melakukan riset, pengabdian masyarakat dengan aneka pelatihan untuk meningkatkan SDM (berkoordinasi dengan stakeholder lain) Perguruan Tinggi memegang peran penting dalam menciptakan dan mengembangkan ide, inisiatif, aneka rekomendasi untuk berbagai aktor ekonomi.
5 Kelompok Kepentingan Berkoordinasi secara intensif dengan berbagai aktor untuk mendorong dan mensinergikan nilai yang diusungnya dengan kerangka pembangunan lokal. Kelompok Kepentingan sangat beragam dan memiliki cara dan pola gerakan yang berbeda-beda sehingga koordinasi menjadi sangat kunci.

 

Referensi

Carles Nopriandi, “Reaksi Pemerintah Rusia terhadap penempatan pasukan North Atlantic Treaty Organization (NATO) di Eropa Timur tahun 2017,” e-Journal Ilmu Hubungan Internasional, Vol.  5, No. 3, 2017, p: 789-802.

Friska S (2010), “Value Chain Analysis (Analisis Rantai Nilai) Untuk Keunggulan Kompetitif Melalui Keunggulan Biaya,” Jurnal Ekonom, Vol 13 No 1, Januari.

Olga Daksueva dan Serafettin Yilmaz, “The Russia-China Security Partnership in the Asia-Pacific Region: Conjectural and Structural Dimensions,” Tamkang Journal of International Affairs, Vol.  17, No. 4, 2014, p: 61-92.

Sugiarto Pramono (2017), “Peran Indonesia dalam kebangkitan Asia Timur,” dalam Ali Romdloni at all, China, Indonesia dan Islam (in Press).

Wikipedia, “Konflik perbatasan Tiongkok-Soviet,” https://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_perbatasan_Tiongkok-Soviet

“10 Negara Investasi Terbesar ke Indonesia 2016,” 26 Januari 2017, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/01/26/10-negara-terbesar-investasi-ke-indonesia-2016

“Asia tops the world in foreign direct investment, according to new UNCTAD report,” UNCTAD Press Release (Geneva, Switzerland, 23 June 2014), http://unctad.org/en/pages/PressRelease.aspx?OriginalVersionID=181

[1] Penulis adalah staff peneliti dalam Pusat Kajian Belt and Road Initiative-PPIT, Mahasiswa PhD dalam International Politics di Shandong University dan Pengurus Suriyah di PCINU Tiongkok. Penulis dapat dihubungi melalui email: sugiartopramono@unwahas.ac.id.

Leave a Reply:

Your email address will not be published.