Raih Rekor MURI: Doktoral Mudi Indonesia dari Perguruan Tinggi di Tiongkok

Oleh: Annisa Dewanti Putri, Teknik Sipil, Beijing Jiaotong University,

Depdir Pusmedkom PPI Tiongkok.


Gambar. Penyerahan Rekor MURI oleh Jaya Suprana. Dokumentasi: Shinta, 2018.

“Penghargaan dengan Kategori Perempuan Indonesia Termuda Peraih Gelar Doktor di Perguruan Tinggi Tiongkok diberikan kepada Shinta Amalina Havidz,”ujar sang pembawa acara dengan meriahnya.  Penghargaan yang berlogo Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) selanjutnya diberikan diiringi hiruk tepuk tangan penonton disekitarnya.

 

Kamis, 9 Agustus 2018, di Jaya Suprana Institute, Jakarta, penyerahan dilaksanakan dan diikuti oleh beberapa rekoris dan masayarakat undangan. Tepatnya penghargaan diberikan oleh Jaya Suprana (CEO dan penggagas MURI) secara langsung kepada sekitar lebih dari sepuluh rekoris di bidang sains dan teknologi dan predikat tertentu saat itu.

Namun, ada yang berbeda dalam penganugerahan kala itu, Shinta Amalina Havidz atau lebih dikenal dengan sapaan Mbak Itha menjadi bagian daripada penerima penghargaan dengan kategori Lulusan Doktoral Termuda dari Tiongkok. Gadis dengan senyum khasnya ini berhasil menyandang gelar Doktoral di Perguruan Tinggi di Tiongkok tepatnya dari Wuhan University of Technology pada usianya yang sekarang 25 tahun 11 bulan. Rekor termuda yang tercatat di MURI terakhir dalam datanya.

Usia yang terbilang muda mengingat kebanyakan di usianya alumnus adalah lulusan setingginya berjenjang master. Sebelumnya, dalam website MURI telah tertera untuk lulusan doktoral termuda dalam negeri, disini perempuan melalui jurusan Enterprise Management ini berhasil masuk menjadi rekoris untuk seorang perempuan termuda lulus doktoral.

Acara penganugerahan yang dihadiri oleh beberapa pemangku penting ini telah memberikan inspirasi kepada masayarakat akademisi baik dalam dan luar negeri mengingat predikat ini sangat jarang dicapai terkhusus untuk seorang wanita muda seperti Shinta. Selain daripada itu keterlibatanya dalam PPI Dunia di komisi pendidikan juga menjadi nilai lebih bagi rekan mahasiswa pemuda.

Menurut Pandu Utama Manggala sebagai Ketua Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia 2017/2018 ketika ditanya soal pencapaian ini, “Menginspirasi! Tidak mudah untuk bisa menyelesaikan studi Phd, apalagi ini di usia relatif muda.” Pandu berharap semoga aksleresasi prestasi yang didapat Shinta, bisa juga menginspirasi anak bangsa lainnya untuk melakukan hal-hal yang membanggakan juga. Menjadi kebanggan tersendiri untuk Indonesia yang semakin memiliki banyak akademisi berprestasi di setiap bidangnya.

Lulus Cepat di Tiongkok

Dalam ceritanya, Shinta mengaku banyak sekali kendala yang dihadapi saat studi di jenjang doktoralnya. Tekrhusus di Luar Negeri atau di Tiongkok dimana standar pendidikannya lebih tinggi daripada umumnya. Di Tiongkok sendiri adalah suatu keunikan luar biasa jika bisa lulus dalam waktu cepat terkhusus tiga tahun. Sebagian besar pencapaian kelulusan dokter disini adalah 4-5 tahun bergantung dari riset.

“Banyak godaan untuk extend, tapi saya memilih untuk lanjut dan focus sehingga bisa maksimal tiga tahun,” ungkap Shinta yang sering disapa Mbak Itha di kehidupan sehari-harinya. Baginya peran teman di kampus menjadi sangat penting dan mempengaruhi. Ia berkisah bahwa teman-temanya selalu saling membantu dalam diskusi dan penyelesaian masalah sampai muncul pepatah, “We start this together, so we need to finish it together,” ujarnya meniru salah seorang teman sekelasnya saat itu.

Selain itu, peran keluarga baginya amat penting dalm pencampaiannya.  Ini mengingat keluarganya sebagian besara berlatar belakang pendidikan dan sangat mendukung Shinta untuk menyelesaikan studi lanjutannya. Banyak rekomendasi datang dari pihak keluarga dan lingkungan sekitar.

Selain aktif di akademis, nyatanya sosok Shinta juga aktif di Organisasi dan budaya Tari di Kota Wuham, tempat ia menempuh pendidikan doktoral saat itu. Melalui banyak penampilan, Shinta berhasil memperkenalkan banyak tarian Indonesia di masyarakat Tiongkok. Sebelumnya pula sejak tahun 2003 sosok Shinta telah aktif mengharumkan nama Indonesia sebagai atlit Kempo dan telah menyabet beberapa medali emas dan perak.

Dari pencapaiannya Shinta pun selalu mengingatkan bahwa perempuan muda Indonesia pasti bisa memberikan  prestasi dan pencapaian apapun bidangnya, selagi ada niat dan usaha maka semua bisa. Bagi wanita kelahiran Jambi ini, . tak hanya prestasi akademik, tapi juga non akademik  yang bisa menjadi senjata ampuh pemudi dalam mengharumkan Indonesia tak hanya di tanah air tapi bahkan di luar negeri.

 

THE YOUNGEST INDONESIAN DOCTORAL FOR THE MURI RECORD

Author: Annisa Dewanti Putri, Civil Engineering, Beijing Jiaotong University

 

Dokumentasi: Shinta 2018

Thursday, August 9, 2018, at Jaya Suprana Institute, Jakarta, the ceremony for awardees  was carried out and was attended by several invitations and invited community members. Precisely the award was given by Jaya Suprana (CEO and initiator of MURI) directly to around more than ten recorders in the field of science and technology and certain predicate of record at the time.

However, there was something different and unique in the awarding ceremony at the time. Shinta Amalina Havidz or well known as Ita as part of the recipient of the award with the category of Youngest Doctoral Graduates from China had attend the awarding agenda. The girl with her sweet smile managed to hold a Doctoral degree in Higher Education in China. She graduated from Wuhan University of Technology at the age of now 25 years and 11 months. The youngest record recorded in the last MURI database.

This is a big achievement as considering that most of them on her age are them with a master degree. Previously, on the MURI website it was written for the youngest doctoral graduates in the country, but here she is the women from the Department of Enterprise Management who managed to be given a record as the youngest woman graduating from a doctorate studying abroad.

The awarding event, which was attended by several important stakeholders, inspired the local and international academic community, considering that this title is rarely achieved especially for young women like Shinta. Beside that, the involvement of Shinta in the Overseas Indonesian Student Association and Alliance or well known as PPI Dunia  is also an added value for fellow youth students to be inspired then.

According to Pandu Utama Manggala as Chair of the Coordinator of the Indonesian World Student Association 2017/2018, “Inspiring! I hope from her achievement many other Indonesian student can be also be motivated in doing the best.” Being a pride for Indonesia, this hopely may increase the academic achievements based on their specific fields.

 

Graduating & Studying in China

In her story, Shinta admitted that there were many obstacles in  her doctoral study. Studying abroad and some technical academic  or in China where the standard of education is higher than generally in Indonesia. In China itself is an extraordinary rare if you students graduate in a on time range, especially three years. Most of the doctor’s graduation achievements here are 4-5 years depending on research.

“There are many temptations to extend, but I chose to continue and focus so that it can be a maximum of three years,” said Shinta or usually called Mbak Ita in her daily life. For her, the role of friends on campus is very important and influential. She said that her friends always help each other in discussions and problem solving until some range of time. “We start this together, so we need to finish it together,” as she said while imitating one of her classmates at that time.

In addition, the role of the family for her is very important thing. This is because her family is mostly from an education background and strongly supports Shinta in completing her further studies and achievements. Many recommendations come from the family and also the surrounding environment.

In addition beside active in academics, in fact Shinta’s figure is also active in the Organization and Culture of Dance in the City of Wuhan, where she took doctoral education at that time. Through many appearances, Shinta successfully introduced many Indonesian dances in Chinese society. Previously, since 2003, Shinta’s figure has been active in the name of Indonesia as a Kempo athlete and has won several gold and silver medals.

From her achievements, Shinta always reminds that young Indonesian women can certainly provide achievements and knowledge in any field, while there is intention and effort then all can happen. For this woman from Jambi. For her,  not only academic achievement, but also non-academic which can be a powerful weapon in scenting the Wonderful Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.