Sister City dan Wajah Baru PPI Tiongkok: Satu Periode Satu Teladan

23 May 2018

Lebih dari setahun yang lalu saya membaca kencenderungan positif seorang aktifis organisasi yang sepak terjangnya (saya amati sepertinya) dilandasi semangat untuk bisa berkontribusi terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Dengannya, beberapa kali pernah terjadi komunikasi meski hanya melalui ruang maya bernama wechat. Hanya sekali saja, dalam even tour ceramic fairs, bisa bertatap muka dengannya meski tanpa lebar bicara. Penasaran akan kedalaman semangatnya karena juga merasa ada irisan yang sama tentang “bahwa organisasi perhimpunan pelajar harus bisa memberi, berkontribusi nyata terhadap bangsa dan Negara”, saya kontak beliau baru-baru ini. Siapakah dia? Fadlan Muzakki namanya, ketua perhimpunan pelajar se-Tiongkok yang baru saja terpilih dan akan mengemban tugasnya dua tahun kedepan.

Soal kontribusi. Dalam misi kepemimpinannya, sang ketua dengan nyata telah menyebut kata “kontribusi” disamping juga kata lain berikut:  belajar, berkarya, berbagi, kolaborasi dan insprasi. Atas dasar kemauan belajar, berbagi dan berkolaborasi dari seluruh “awak kapal” organisasi yang dinahkodainya, saya membaca (mungkin) Mas Fadlan mengharapkan semuanya bisa memberikan karya (berkarya) nyata sehingga pada gilirannya PPI Tiongkok bisa menjadi inspirasi banyak kalangan bukan saja orang-perorang tapi juga institusi di manapun adanya.

Nahkoda sudah ada dan kapal hendak berlayar. Ornamen interior kapal yang akan mengarungi lautan 2 tahun kedepan sudah dibikin kaya. Seperti beda dengan keadaan sebelumnya. Pengkayaan dimaksud misalnya dengan adanya Pusat Media dan Komunikasi serta  Pusat kajian Strategis (PUKAT) yang terdiri dari tiga bidang kajian: kajian jalur sutera modern/ The Belt Road Initiative (BRI); social ekonomi dan budaya (sosekbud); serta sains dan teknologi (saintek). Kelengkapan ini juga masih ditopang oleh aneka departemen yang kalau terkelola dan berjalan dengan baik, hemat saya, bisa menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat untuk berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.

Kontribusi seperti apa yang hendak diberikan organisasi yang kaya ornamen itu?, adalah pertanyaan pentingnya. Sebagai langkah awal saya belajar menjadi bagian dari ornament yang ada itu, saya ingin berbagi dengan menawarkan sebuah gambar besar bernama kota kembar (sister city). Beberapa buah kata kunci yang juga saya tawarkan: integrasi, energi, dan skala kecil. Tawaran lengkapnya adalah “mungkinkah nahkoda kapal dapat mengintegrasikan energi yang ada disetiap ornament kapal ini untuk hanya memikirkan skala kecil aksi untuk satu gambar besar bernama sister city? Hanya satu gambar besar untuk periode yang juga tidak terlalu lama, apalagi masing-masing pelajar juga punya rencana dan skala”.

Kenapa disebut sebagai skala kecil? karena kalau tawaran ini diterima kita hanya berfokus pada skala kota atau kabupaten di Indonesia yang akan kita jembatani gerak majunya. Kenapa pula disebut gambar besar?, karena bagi saya sister city dapat menjadi media pembelajaran yang sangat kompleks bagi semua yang ada dalam ornament kapal dan kapal ltu sendiri manakala ia bercita cita menjadi inspirasi bagi siapapun dan dimanapun. Betapa tidak, atas nama sister city, keberfungsian ornament dalam kapal bisa terwujud tanpa kencuali karena tujuan akhirnya yang sangat jelas. Semua energi yang dipunyai hanya akan mencapai tujuan akhir yang sama, tentu dengan inovasi-dinamis yang bisa dikembangkan oleh masing-masing pelakunya. Pada gilirannya kapal besar PPI Tiongkok bisa menjadi jembatan bagi kabupaten/kota di Indonesia yang ingin kualitas dan kuantitas kerjasama luar negerinya dalam bingkai sister city tersebut bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Mari sejenak kita bincangkan bagaimana gambar besar sister city yang sudah dijalankan oleh kota Surabaya. Selain dengan Xiamen dan Guangzhou di Tiongkok, Kota Surabaya juga bekerjasama dengan banyak kota lainnya di dunia. Kerjasama pemkot Surabaya dan Xiamen misalnya, telah di mulai sejak tahun 2003. Kerjasama bidang pendidikan, ekonomi, perdagangan, kebudayaan, dan pariwisata ini telah memberikan dampak positif bagi pengembangan potensi kota dan teknologi di Surabaya dan sebaliknya bagi Xiamen sebagai kota yang menduduki peringkat 10 besar kota di Tiongkok yang PDB nya meningkat rata-rata lebih dari 20% per tahun[1].

Kerjasama luar negeri antar kota semacam ini telah banyak dilakukan berbagai kota/kabupaten di Indonesia. Tapi bagaimana operasionalisasi kerjasama dan dinamika di dalamnya, mungkin hanya kalangan terbatas yang tahu. Hemat saya, sangat besar poin dan manfaatnya apabila mahasiswa yang ada di luar negeri termasuk kita di Tiongkok dapat secara detail memahami cara dan sistem kerja sister city. Boleh Jadi kerjasama yang sudah terjalin antara berbagai kota di Indonesia pun mengalami kendala rumit. Dengan mengetahui sisi positif dan negatif nya, mahasiswa yang energinya bertambah besar karena terhimpun dalam wadah yang kuat dan professional bernama PPI Tiongkok, pada saatnya baik secara individu dan apalagi atas nama perhimpunan pelajar, dapat menjadi jembatan bagi kota/kabupaten manapun yang hendak memilih jalan kerjasama semacam ini.

Jika gayung ini bersambut, setahun kedepan kita punya satu tujuan yang sama. Berbagai departemen, Pusat Media dan Komunikasi, serta PUKAT merancang aktifitasnya dan mengaitkannya pada penguatan akan pemahaman dan implementasi aksi nyata sister city. Ruh kajian BRI, sosekbud, dan saintek (termasuk jika hendak menggelar seminar internasional) difokuskan pada tujuan yang satu: bagaimana memahami dan menguatkan konsep sister city. Dan kontribusi nyata organisasi dalam setahun atau dua tahun ini nantinya adalah (mungkin) kita punya satu teladan: sebuah kota/kabupaten yang terjembatani kerjasama luar negerinya dalam bingkai sister city dengan salah satu Kota di Tiongkok.

Terakhir, ini bukanlah sebuah paksaan. Ini hanyalah sebuah tawaran karena saya yakin dengan visi besarnya, Mas Fadlan jauh lebih dalam pemikirannya. Demikian juga rekan-rekan lainnya yang tersebar disetiap departemen dan pusat kajian, sudah barang tentu mempunyai cita-cita yang tentu sangat mulia dalam mengisi aktivitas organisasi ini. Selebihnya, ini hanya cara saya untuk menyemangati rekan-rekan yang mau belajar dan berkontribusi untuk PPI Tiongkok, untuk Indonesia. Semoga.[]

[1] Irdayanti. 2014. Substansi kerjasama luar negeri sister city Kota Surabaya-Xiamen. Kutubkhanah: Jurnal Penelitian social keagamaan. Vol 17 No.1. ISSN: 1893-8186

Penulis

Z. Nanang (Mahasiswa PhD Indonesia di Daerah Nanjing, China)

Pusat Kajian PPIT

Nanjing, 23 Mei 2018

 

Leave a Reply:

Your email address will not be published.