31 Januari 2021 Hari Lahir NU, Apa itu NU?

Penulis : Ayu Fitri Rahmawati

PPITIONGKOK.org – NU atau Nadhatul Ulama merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar. Meski secara umum bergerak di bidang keagamaan, khususnya Islam, NU sejatinya juga berjalan di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. NU juga dikenal sebagai organisasi yang tak mempertentangkan antara kebangsaan dan keislaman. NU menerima kehadiran Pancasila sebagai dasar negara dan tak menuntut syariat Islam diterapkan secara formal.

Di dalam struktur organisasi NU, setidaknya ada 7 tingkatan kepengurusan, yaitu :

  • PBNU

PBNU adalah singkatan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang berkedudukan di Ibu Kota Negara.

  • PWNU

PWNU adalah singkatan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama yang berkedudukan di Provinsi.

  • PCNU

PCNU adalah singkatan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama yang berkedudukan di kabupaten atau kota.

  • PCINU

PCINU adalah singkatan dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama yang berkedudukan di luar negeri.

  • MWCNU

MWCNU adalah singkatan dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama yang berkedudukan di kecamatan.

  •  Pengurus Ranting NU

Pengurus Ranting NU adalah kepengurusan organisasi Nahdlatul Ulama yang terletak di desa atau kelurahan.

  • Pengurus Anak Ranting NU

Pengurus Anak Ranting adalah kepengurusan Nahdlatul Ulama yang berkedudukan di dusun atau pada suatu kelompok (komunitas).

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok lahir didasari pertama, semangat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Islam yang cinta damai, sekaligus untuk menjaga hubungan baik persahabatan Indonesia dan Tiongkok. Kedua, menjaga warga Nahdlatul Ulama di Tiongkok yang mayoritas adalah mahasiswa dari paham radikalisme agama maupun paham radikalisme sekuler. Lahirnya Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Tiongkok ini secara resmi ditandai dengan terbitnya Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor 185/A.II.04.d/10/2017 tentang Pengesahan PCI NU Tiongkok

Berdirinya PCINU Tiongkok terbagi menjadi tiga fase, yaitu:

  • Fase Embrio:

Inisiatif untuk mendirikan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama di Tiongkok sebenarnya sudah ada sejak tahun 2012. Saat itu sembilan santri dari Masjid Agung Jawa Tengah yang kuliah di Nanchang University Tiongkok sudah mulai merintis pendirian Cabang Istimewa NU ini. Inisiatif pendirian NU Tiongkok juga mendapat dukungan dari beberapa santri yang kuliah dibeberapa kota di Tiongkok diantaranya santri dari ponpes Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambak beras Jombang, santri dari Nurul Jadid Probolinggo, dan santri dari Arrisalah Lirboyo Kediri. Namun di fase ini pembentukan secara resmi belum sempat terlaksana karena saat itu masih kurangnya personil dan sulitnya menemukan sosok yang mumpuni menjadi Rais Syuriah sebagai salah satu syarat pendirian Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama.

  • Fase Pendirian:

Semangat mendirikan Cabang Istimewa NU di Tiongkok ini pun terus berlanjut, hingga hadirnya generasi baru mahasiswa Doktoral seperti Imron Rosyadi Hamid (Jilin University), Ali Romdhoni (Heilongjiang University), Sugiarto Pramono (Shandong University), Nurwidiyanto (Northeast Normal University), Hilyatu Milati Rusdiyah (Chongqing University) dan Bapak Fahmi Rizanul Amrullah (Warga NU di Beijing) menambah  gairah pendirian Cabang Istimewa ini. Memanfaatkan waktu liburan musim panas bersama mahasiswa NU di kota besar lainya seperti Suud Tasdiq (Shanghai), M. Refqy Bacharudin (Fuzhou), Syafiq Islamudin (Hangzhou), Musa Ridho (Wuhan) dan beberapa alumni seperti Agus Fathudin Yusuf dan Ahmad Syaifuddin Zuhri berkumpul menyelenggarakan Konferensi Cabang Istimewa pertama, tepatnya  tanggal 20 Agustus 2017 di Ponpes Al-Islahiyah, Malang, Indonesia. Saat itu terpilih H. Imron Rosyadi Hamid sebagai Rais Syuriah dan Kang Nurwidiyanto sebagai Ketua Tanfidziyah.

  • Fase Pengembangan:

Semakin banyak santri yang kuliah di Tiongkok untuk memperkuat PCINU Tiongkok. Salah satunya pada tahun 2018 ada 10 santri dari beasiswa PBNU yang bekerjasama dengan Kedubes China di Jakarta. PCINU Tiongkok memeliki sekitar 500 anggota dan terdapat 8 pengurus ranting yang berlokasi di Nanjing, Changchun, Beijing, Wuhan, Guangzhou, Chongqing, Shanghai, dan Fujian. Di kepengurusan PCINU Tiongkok terdapat sekitar 60 orang dari tingkat Mustasyar, Syuriah, Tanfidziyah, dan Lembaga. PCINU Tiongkok mempunyai 5 lembaga, yaitu : Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Lembaga Pendidikan dan Sosial, Lembaga Media dan Komunikasi, Lembaga Perekonomian. 

Nah, untuk lebih mengenal PCINU tiongkok, bagaimana suka dan duka menjadi pengurus PCINU Tiongkok? Apa saja tantangannya? Saya berhasil melakukan wawancara dengan ketua Tanfidziyah PCINU Tiongkok, Kang Nurwidiyanto, yang juga merupakan salah satu mahasiswa Northeast Normal University.

  • Bagaimana suka dan duka Kang Widi selama di PCINU Tiongkok?

Visi PCINU Tiongkok adalah Menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin di Tiongkok. Ketua PBNU, Bapak Robikin Emhas pernah berpesan agar PCINU Tiongkok terus ikut berpartisipasi dalam menjaga perdamaian dan harmonisasi kehidupan antar kedua negara. Menyebarkan nilai-nilai Islam Nusantara yang moderat, toleran, seimbang, dan adil di negeri Tiongkok tersebut dan kami senang bisa menjadi bagian untuk berpartisipasi menjalankan visi mulia tersebut. Sedangkan dukanya adalah sebagai pengurus kami sudah berusaha secara semaksimal mungkin, namun demikian dalam menjalankan program kerja disana- disini masih menghadapi kondisi yang belum memuaskan, tetapi semoga berkat kerja sama dan rasa kebersamaan dari sahabat-sahabat, program-program tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya.

  • Apa saja yang menjadi tantangan PCINU Tiongkok selama ini?

Pertama, menjaga warga Nahdlatul Ulama di Tiongkok yang mayoritas adalah mahasiswa dari paham radikalisme agama maupun paham radikalisme sekuler merupakan salah satu tantangan terbesar PCINU Tiongkok. Kedua, Sebagai bagian terbesar dari penduduk muslim Indonesia, maupun dunia, maka Nahdlatul ulama termasuk PCINU Tiongkok akan terus menjadi bagian dari entitas yang bisa memperkuat hubungan Indonesia dengan Tiongkok. Ketiga, Isu-isu negatif dan hoax yang setiap tahun muncul di media massa tentang muslim China yang secara tidak langsung akan berdampak pada mahasiswa Indonesia di Tiongkok.

  • Apa peran yang sudah dilakukan PCINU Tiongkok selama ini?

Para santri NU telah berhasil memberikan perimbangan informasi berkait kehidupan islam dan umat muslim di China termasuk kebijakan pemerintah Tiongkok terhadap keberadaan agama islam. Peran ini penting sebagai penyeimbang berita-berita hoax yang dilontarkan pihak tertentu. Dalam konteks persoalan di Xinjiang yang telah menjadi isu dunia termasuk di Indonesia, PCINU Tiongkok telah menjadi rujukan berbagai pihak untuk mendapatkan penjelasan yang lebih ‘obyektif’ karena dianggap berhadapan langsung dengan persoalan di Tiongkok. Penerbitan buku Islam di Tiongkok, kegiatan keagamaan termasuk festival takbiran, seminar dengan pemimpin komunitas muslim Tiongkok, dll.

  • Arti PCINU sendiri bagi Kang Widi itu seperti apa?

Bagi saya arti PCINU Tiongkok merupakan salah satu sayap besar bagi NU yg di Luar Negeri dan mewadahi saudara-saudara kita umat muslim di Tiongkok. 

  • Harapan untuk PCINU Tiongkok kedepannya dan harapan untuk mahasiswa yang sedang  merantau ke Tiongkok?

Harapan saya agar PCINU Tiongkok bisa terus berkhidmah dan semoga semua pengurus diberikan kekuatan dan keikhlasan sepenuh hati untuk melaksanakan setiap program kerja, sehingga tujuan kita untuk memperkenalkan nilai-nilai islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang Rahmatan Lil Alamin bisa tercapai. 

Program pertukaran pelajar dan beasiswa bagi kalangan santri perlu ditingkatkan kuantitasnya di masa mendatang. Harapan besar untuk mahasiswa indonesia yang khususnya umat Muslim NU bisa ikut serta partisipasi menjalankan dan menghidupkan organisasi PCINU Tiongkok. Mbah KH Hasyim Asy’ari pernah dawuh “Siapa yang mengurusi NU aku anggap sebagai santriku, siapa yang jadi santriku maka aku doakan semoga khusnul Khatimah beserta keluarganya”. Semoga dengan mengurusi NU saya dan sahabat-sahabat semua bisa menjadi santrinya beliau.

Kami segenap keluarga PPI Tiongkok mengucapkan Selamat Hari Lahir NU Ke-95!

Salam Perhimpunan!

PPI Tiongkok 2020-2021

Berdaya-Berkarya-Bersama

Leave a Comment

Your email address will not be published.