Webinar PPI Tiongkok bahas Jejak “Dekatnya” Hubungan Budaya Indonesia dan China

18 December 2018

Beijing (19/11/2018) – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok berkolaborasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok cabang Harbin kembali mengadakan webinar ‘Dua Pena’ dengan tema ‘Menggali Jejak Dekatnya Hubungan Budaya Indonesia-China’. Secara khusus, webinar kali ini disiarkan secara langsung di Pondok Pesantren Al-Wafa, Desa Tumperejo, Jember. Peserta webinar yang merupakan gabungan dari para mahasiswa Indonesia di Tiongkok dan juga para santri di Pondok Pesantren berjumlah lebih dari 500 orang.

Narasumber pertama yaitu Kepala Pusat Kajian Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok, Bapak Ali Romdhoni. Selain merupakan seorang pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim,. Beberapa karya tulis yang telah beliau hasilkan membahas tentang penulusuran penulis dalam mengungkap sejarah kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa.

Mahasiswa doctoral bidang sejarah dan budaya di Heilongjiang University, Harbin,ini menjelaskan bahwa hubungan budaya Indonesia dan China dipicu dengan adanya proses migrasi bangsa China ke Indonesia. Proses ini terbagi menjadi empat gelombang, dimana gelombang pertama telah dimulai sejak 1500 SM dan 2500 SM. Proses ini mulai saling memberikan pengaruh kepada kedua belah pihak terutama pada sistem perpolitikan. Selanjutnya pada abad ke-2 M, proses akulturasi dan hibridisasi semakin meluas hingga mencakup bidang perdagangan, konsep hunian, gaya arsitektur, pertanian, dan lainnya.

Pemateri, yang juga penulis buku ini menceritakan pada tahun 1292 M ketika Marco Polo melakukan perjalanan laut dari China menuju Italia, pelaut terkenal itu sempat singgah di Kota Perlak, Aceh. Di kota tersebut, ia menjumpai orang-orang China yang sudah memeluk agama Islam. Gelombang keempat terjadi seratus tahun setelah kedatangan Marco Polo, dimana Cheng Ho berkunjung ke Pulau Jawa dan menjumpai banyaknya etnis China-Muslim yang telah menetap di Tuban, Gresik, dan Surabaya.

Terkait teori masuknya Islam di Nusantara, beberapa laporan penelitian menyatakan bahwa Islam di Indonesia berasal dari China. Komunitas China-Muslim memberikan kontribusi penting atas berkembangnya Islam di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Bukti tersebut diperoleh dari kesaksian para pelancong asing, sumber-sumber China, teks lokal Jawa, maupun peninggalan purbakala di Pulau Jawa. Bahkan diyakini bahwa Putri China selalu hadir dalam pertemuan penting kerajaan-kerajaan di Jawa seperti Kerajaraan Singosari, Majapahit, dan Demak.

Penulusuran yang dilakukan pada tempat-tempat penting di Jawa dan China memberikan kesimpulan bahwa benda-benda di kedua tempat tersebut memiliki kesamaan bentuk, fungsi, serta makna. Beberapa diantaranya yaitu ukiran bledek mirip naga di pintu utama Masjid Agung Demak Jawa Tengah juga ditemukan di ukiran batu yang berada di area Masjid Niujie, Beijing, China.

Dalam penelusurannya, beliau menemukan pahatan menyerupai gambar Bulus pada mihrab di Masjid Agung Demak juga ditemukan di halaman salah satu klenteng di Harbin, China. Batu mirip Lingga dan Yoni di Museum Trowulan Mojokerto, Jawa Timur juga berada di halaman Masjid Niujie. Selain beberapa contoh di atas, masih banyak lagi kemiripan yang dimiliki beberapa bangunan atau peninggalan di kedua negara tersebut.

Budaya beragama di Indonesia dan China memiliki kesamaan dan saling mempengaruhi misalnya dalam bentuk pengetahuan lokal, artefak, konsep hunian, dll. “Temuan ini bisa jadi modal bagi kedua belah pihak untuk bersinergi saling belajar dan memperkuat satu sama lain” ujar pembicara yang sedang melakukan kajian bidang Budaya Islam di China ini.

Narasumber kedua yaitu Bapak Ki Herman Sinung Janutama. Beliau merupakan peneliti senior pada Balai Kaji Sejarah Kebudayaan Islam di Nusantara. Karya tulis beliau sangat banyak, beberapa diantaranya ditulis dalam bahasa Jawa.

Sebagai seorang peneliri bidang sejarah, ia memaparkan bukti adanya hubungan China dan Nusantara di masa lalu. Beliau menjelaskan bahwa jalur layar perdagangan purba sejak 1500 SM harus melewati wilayah laut Nusantara. Catatan dari Tiongkok juga menyebutkan pada tahun 650 – 655 M terdapat hubungan perdagangan antara tiga kesultanan yaitu Ta-Ce (saat ini Aceh), Kanton (Tiongkok), dan Kalingga (saat ini Jepara). Setiga kemakmuran ini berlansung saat zaman khalifah Ali Bin Abi Thalib.

Peserta Webinar PPIT di Daerah Jember

Argumen bahwa masuknya Islam di Nusantara berasal dari bangsa China diperkuat dari dokumen-dokumen kuno pemerintahan China. Dokumen ini membahas keberadaan Masjid Kuangta di Huang Zu, Kanton, China yang sudah berdiri sejak tahun 627, masa ketika Rasulullah masih hidup. Bahkan hukum-hukum Islam sudah mulai dijalankan saat itu. Sabda Rasulullah mengenai “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” dipercaya memiliki maksud adalah Masjid Kuangta tersebut.

Sebagai penjelasan pamungkas, penulis buku “Majahapit: Kerajaan Islam” ini mengungkap bukti lain mengenai hubungan lama budaya Nusantara dan China yaitu melalui jejak seperti Simbol kubah di tempat-tempat pengintai, motif mega mendung, motif kubah masjid di Forbidden City, serta simbol mim-ha-mim-dal yang ditemukan di baju Ming. Khususnya dalam penyebaran agama islam. “Relasi kemiripan antara kebudayaan China dan Indonesia yang terjadi dari proses akulturasi dan hibridisasi kebudayaan kedua negara tersebut diharapkan dapat menjadi modal untuk dapat saling bersinergi” tutur penulis buku Majahapit: Kerajaan Islam ini.

Webinar ini dilaksanakan dengan tujuan membahas hubungan kebudayaan Indonesia dan China. Webinar ini dilaksanakan selama hampir 2 jam dengan antusianisme peserta yang cukup tinggi. Kegiatan webinar merupakan salah satu kegiatan rutin PPI Tiongkok yang diselenggarakan sebagai media untuk berbagi pengetahuan dan wawasan, serta memberikan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan di Tiongkok.

Nadya Mara Adelina Pengurus PPI Tiongkok (Dept. Pendidikan)  

 

Leave a Reply:

Your email address will not be published.